Jumat, 18 September 2026
Menu

Bursa Saham Kita: Megah di Angka, Kosong di Dompet Rakyat

Redaksi
Kemal H Simanjuntak Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK). | Dok Ist
Kemal H Simanjuntak Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK). | Dok Ist
Bagikan:

Kemal H Simanjuntak Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)

FORUM KEADILAN – Kabar baik dari bursa saham Indonesia yang belakangan ini terdengar sangat meyakinkan. Nilai seluruh perusahaan di bursa menyentuh rekor sekitar Rp15.800 triliun, ratusan perusahaan baru berbondong-bondong melantai (IPO), dan jutaan rekening investor pemula tercatat di sistem.

Namun, jika angka-angka tersebut dibedah, ada jurang besar antara apa yang terpampang di berita dengan manfaat nyata bagi perekonomian masyarakat. Pasar saham kita saat ini tampak besar di luar, tetapi rapuh dan dangkal di dalam.

Pasar Ramai, Tapi Dagangan Dikuasai Segelintir Orang

Ibarat sebuah pasar tradisional yang sangat luas dengan ratusan kios dagang, kenyataannya pengunjung hanya berdesak-desakan di sepuluh kios milik pemodal besar di pintu depan.

Kondisi inilah yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilai transaksi harian dan pergerakan indeks saham sebagian besar hanya digerakkan oleh segelintir bank raksasa dan konglomerasi besar. Ratusan perusahaan lainnya justru sepi transaksi atau kerap disebut saham tidur. Publik melihat bursa seperti sedang berpesta, padahal kemakmurannya hanya berputar di lingkaran yang amat sempit.

Secara ukuran ekonomi pun, bursa kita sebenarnya belum sekuat negara tetangga. Nilai pasar saham Indonesia baru setara 71–72 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini masih jauh tertinggal dibandingkan Malaysia (97 persen), Thailand (101 persen), bahkan India yang sudah menembus 140 persen.

Banyak Perusahaan Masuk, Berapa yang Bertahan Jujur?

Masalah lain muncul dari ambisi mengejar kuantitas perusahaan yang melantai. Demi mencetak rekor rekrutmen perusahaan baru, saringan masuk di gerbang bursa (gatekeeping) kerap terasa longgar.

Masyarakat ritel sering tergiur membeli saham perusahaan yang baru terdaftar karena promosinya yang gemerlap. Tetapi, belum genap satu atau dua tahun, kinerjanya tiba-tiba merosot tajam, manajemennya tersandung masalah, dan harga sahamnya anjlok hingga masuk ke papan pemantauan khusus.

Bursa tidak boleh dibiarkan menjadi sarana pemilik modal awal untuk sekadar “cuci tangan” menjual bisnis bermasalah dan mengambil keuntungan dari uang tabungan masyarakat awam. Kualitas emiten setelah melantai jauh lebih penting daripada sekadar seremonial pemukulan bel di hari pertama.

Bursa Sebagai Mesin Modal, Bukan Tempat Menebak Angka

Pasar saham sejatinya diciptakan sebagai jembatan pembentukan modal (capital formation). Artinya, uang dari tabungan masyarakat dihimpun untuk mendanai pabrik baru, membiayai proyek energi bersih, dan membuka ribuan lapangan kerja baru.

Sayangnya, realitas hari ini memperlihatkan bursa lebih sering berfungsi sebagai meja spekulasi cepat (trading venue). Orang membeli saham bukan karena memahami prospek bisnisnya, melainkan sekadar bertaruh harga akan naik besok pagi untuk langsung dijual kembali. Produk-produk baru yang canggih—seperti derivatif hingga bursa karbon—juga akhirnya sepi peminat karena masyarakat dan pelaku usaha belum melihat manfaat nyatanya selain untuk spekulasi jangka pendek.

Di tengah rencana pemisahan kepemilikan bursa (demutualisasi), bursa saham diuji untuk tidak hanya memikirkan keuntungan komersial dari komisi transaksi. Indonesia tidak membutuhkan bursa yang hanya sibuk memamerkan rekor demi gengsi statistik semata.

Pasar modal harus berani bersih-bersih seperti memperketat seleksi perusahaan yang boleh masuk, melindungi investor kecil dari permainan harga semu, dan memastikan aliran dana publik benar-benar menghidupkan roda ekonomi rakyat banyak. *