Jumat, 14 Agustus 2026
Menu

Sidang Tahunan 2026, Ketua MPR Ahmad Muzani Sebut Demokrasi Tak Jadi Kuat dengan Mencela

Redaksi
Ketua MPR RI Ahmad Muzani dalam Sidang Tahunan MPR RI bersama DPR dan DPD dengan agenda laporan kinerja lembaga-lembaga negara yang akan disampaikan Presiden Prabowo Subianto yang digelar Jumat, 14/8/2026 | YouTube Sekretariat Presiden
Ketua MPR RI Ahmad Muzani dalam Sidang Tahunan MPR RI bersama DPR dan DPD dengan agenda laporan kinerja lembaga-lembaga negara yang akan disampaikan Presiden Prabowo Subianto yang digelar Jumat, 14/8/2026 | YouTube Sekretariat Presiden
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Ketua MPR RI Ahmaz Muzani mengatakan bahwa demokrasi tidak akan menjadi kuat dengan mencela satu sama lain.

Hal itu ia sampaikan dalam Sidang Tahunan MPR RI bersama DPR dan DPD dengan agenda laporan kinerja lembaga-lembaga negara yang akan disampaikan Presiden Prabowo Subianto yang digelar Jumat, 14/8/2026.

“Demokrasi tidak akan menjadi lebih kuat karena kita semakin keras mencela,” ucap Muzani di Gedung DPR-MPR.

Menurutnya, demokrasi akan menjadi kuat jika kebebasan berbicara diiringi dengan tanggung jawab, yakni dengan disertai argumentasi dan perbedaan tersebut tidak dihina.

“Demokrasi akan menjadi kuat jika kebebasan berbicara disertai tanggung jawab. Jika kemerdekaan bicara disampaikan dengan argumentasi dan jika perbedaan tidak dijadikan alasan penghinaan,” katanya.

Ia mengatakan, kemajuan tekonologi digital telah memperluas ruang demokrasi, di mana setiap masyarakat dapat dengan mudah menyampakan pendapat dan memperoleh informasi.

Meski begitu, ia mengatakan bahwa tekonologi tersebut juga dapat menjadi alat untuk menyebarkan kebencian, fitnah, manipulasi dan kabar bohong.

“Kita tidak boleh membiarkan ruang publik dipenuhi dengan bahasa yang merendahkan martabat manusia,” katanya.

Selain itu, tidak seharunya negara membiarkan perbedaan politik merusak persahabatan, memecah keluarga, atau menanamkan kebencian di antara masyarakat.

“Karena itu, marilah kita membangun budaya politik yang lebih beradab, yang berciri keras dalam gagasan, tapi santun dalam penyampaian, tegus dalam pendirian, tapi terbuka terhadap musyawarh, berani mengkritik, tapi tidak kehilangan penghormatan kepada sesama,” pungkasnya.*

Laporan oleh: Syahrul Baihaqi