Selasa, 28 Juli 2026
Menu

Komdigi Buka Suara Terkait Pernyataan Prabowo Sebut Londo Ireng

Redaksi
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri puncak peringatan Hari Lahir Ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Kamis 23/7/2026, malam | Dok BPMI Setpres/Cahyo
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri puncak peringatan Hari Lahir Ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Kamis 23/7/2026, malam | Dok BPMI Setpres/Cahyo
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai ‘Londo Ireng’ mengenai lembaga swadaya masyarakat (LSM) hingga jurnalis mengundang kritik.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo ketika berpidato dalam acara Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di JCC, Jakarta, pada Kamis, 23/7/2026 pekan lalu.

Pada Senin, 27/7, di sejumlah kota di Indonesia, aliansi jurnalis pun melakukan aksi memprotes pernyataan Prabowo itu. Sebelumnya terhadap pernyataannya yang ramai di media sosial.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pun buka suara terkait polemik yang terjadi.

Komdigi mengingatkan pentingnya menjaga optimism nasional dan tidak terjebak pada perdebatan istilah yang dapat mengalihkan perhatian dari substansi persoalan.

“Presiden memandang kritik, termasuk pemberitaan mengenai sekolah yang mengalami kerusakan, sebagai masukan yang penting untuk diungkap. Berbagai temuan di lapangan menjadi perhatian pemerintah dan ditindaklanjuti melalui langkah-langkah perbaikan,” jelas Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya, dalam siaran pers, Senin, 27/7/2026.

“Ini menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan dengan itikad baik menjadi bagian dari proses membangun Indonesia yang lebih baik,” tambahnya.

Menurutnya, publik diajak untuk melihat konteks utuh dari pernyataan Prabowo mengenai “londo ireng”. Ia mengatakan bahwa pesan yang disampaikan adalah kiasan politik, bukan untuk menyudutkan profesi, media, maupun kelompok tertentu.

“Yang disampaikan presiden adalah ajakan untuk tetap waspada terhadap pihak-pihak yang sengaja merangkai narasi seolah-olah Indonesia tidak memiliki harapan dan tidak sedang bergerak maju,” ujarnya.

“Kritik tentu diperlukan, tetapi berbeda dengan upaya membangun pesimisme secara sistematis,” lanjutnya.

Fifi pun menegaskan bahwa pemerintah menghormati kebebasan pers, kritik masyarakat, dan peran berbagai elemen bangsa sebagai bagian dari demokrasi. Tetapi, pemerintah juga mengajak seluruh pihak untuk menjaga agar ruang publik tidak dipenuhi narasi yang mengabaikan berbagai upaya penyelesaian yang sedang dilakukan.

Pemerintah, katanya, akan terus memilih jalan kerja nyata sebagai jawaban atas berbagai kritik publik.

“Fokus pemerintah adalah menyelesaikan persoalan satu per satu, mempercepat perbaikan di lapangan, dan memastikan masyarakat merasakan manfaatnya. Ruang demokrasi tetap terbuka, tetapi mari bersama-sama menjaga agar kritik menjadi energi perbaikan,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto melontarkan sindiran terhadap beberapa pihak, termasuk jurnalis, pengamat, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dinilainya terus menyebar narasi pesimistis mengenai kondisi Indonesia.

Dalam pidatonya, di acara Harlah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di JCC Senayan, pada Kamis, 23/7/2026 malam, Prabowo menyebut mereka sebagai kelompok yang seolah lebih berpihak kepada kepentingan asing daripada bangsa sendiri.

Prabowo pun menyebut “Londo ireng” kepada pihak-pihak yang sering memberikan kritik dan mencari-cari kesalahan pemerintah.

“Kita negara demokrasi. Kita tidak anti kritik. Tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng, ya. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM,” jelas Prabowo.

Kepala Negara itu menilai narasi Indonesia akan kolaps yang berulang kali dimunculkan oleh pihak-pihak itu sebagai upaya yang tidak nasionalis.

Prabowo secara khusus menyinggung transparansi dan integritas LSM yang selama ini sering melayangkan kritik kepada pemerintah. Ia mempertanyakan motif di balik kritik yang dinilainya bertujuan untuk menggoyahkan kepercayaan public terhadap negara.

Prabowo menegaskan bahwa pemerintah sangat sadar akan adanya pihak yang mempunyai agenda terselubung.

“LSM harus kita tanya. Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrik lo siapa? Yang bayar handphone lo siapa? Cari kerjaan susah, kita tahu kan,” tegasnya.

Prabowo mengungkapkan rasa geramnya karena setiap bulan selalu muncul prediksi bahwa Indonesia akan mengalami keruntuhan. Tetapi, kenyataannya prediksi tersebut selalu meleset.

“Jadi saudara-saudara, kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia akan kolaps. Bulan April akan kolaps. Eh April lewat, enggak kolaps. Bulan Mei akan kolaps. Bulan Mei lewat, enggak. Bulan Juni akan kolaps. Bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps,” jelasnya.

Prabowo menyayangkan adanya media massa yang dinilainya tidak objektif dalam memberitakan keberhasilan pemerintah.

Ia mencontohkan, ketika pemerintah sudah memperbaiki puluhan ribu sekolah yang rusak, media itu justru mencari sekolah yang belum tersentuh perbaikan untuk dijadikan sorotan utama.

“Ada juga media-media yang, ya kan, walaupun kita sudah perbaiki 27 ribu sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia taruh di halaman pertama. Dia kira kita enggak ngerti,” sambungnya.

Prabowo menganalogikan sikap para pengkritik ini seperti pendukung yang justru menjatuhkan mental tim kebanggaannya sendiri saat sedang berlaga di lapangan.

Ia merasa heran dengan pihak-pihak yang tidak memberikan dukungan moral bagi kemajuan bangsa.

“Saudara-saudara, kalau kita cinta sama satu kesebelasan, umpamanya dia lagi bertanding di lapangan, kita kan sebagai suporter, ‘Ayo, ayo, maju.’ Tapi jangan turunkan moral dong orang lagi bertanding di situ. Nanti kamu kalah. Ini suporter macam apa? Gendeng,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup diri terhadap kritik.

Bagi Prabowo kritik yang konstruktif adalah bagian dari proses demokrasi yang sehat. Tetapi, ia membedakan secara tegas antara kritik yang bersifat memperbaiki dengan caci maki atau fitnah yang bertujuan melemahkan kedaulatan bangsa.

“Saudara-saudara, kalau kita cinta sama satu kesebelasan, umpamanya dia lagi bertanding di lapangan, kita kan sebagai suporter, ‘Ayo, ayo, maju.’ Tapi jangan turunkan moral dong orang lagi bertanding di situ. Nanti kamu kalah. Ini suporter macam apa? Gendeng,” bebernya.

Ia menekankan bahwa pemerintah tidak menutup diri terhadap kritik.

Kritik yang konstruktif adalah bagian dari proses demokrasi yang sehat. Tetapi, ia membedakan secara tegas antara kritik yang bersifat memperbaiki dengan caci maki atau fitnah yang bertujuan melemahkan kedaulatan bangsa.

“Kritik itu menyelamatkan. Tapi ada beda kritik dan caci maki. Kritik dengan fitnah itu beda. Itu benar enggak? Tapi enggak ada masalah. Tidak ada masalah. Kalau kita benar, kalau kita berada di jalan yang benar, kita terus akan kuat,” pungkasnya. *