Skandal UBK Dibayar Polisi, PDI Perjuangan Minta Jangan Digeneralisasi ke Seluruh Gerakan Mahasiswa
FORUM KEADILAN – Politisi PDI Perjuangan Aria Bima menilai, dugaan keterlibatan sejumlah mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) yang menerima uang dari pihak kepolisian merupakan kasus yang bersifat khusus dan tidak dapat dijadikan dasar untuk memberikan stigma negatif kepada seluruh mahasiswa di Indonesia.
Menurut Aria Bima, berbagai tindakan yang muncul dalam dinamika gerakan mahasiswa, mulai dari perilaku yang dinilai kurang santun hingga aksi yang berujung anarkis, merupakan bagian dari proses pendewasaan politik dan sosial kalangan mahasiswa.
“Kami berharap hal yang menyangkut ekses-ekses, ada yang dibayar, ada yang kadang anarkis berlebihan, ada yang kadang ngomongnya tidak santun, itu bagian dari proses kematangan dan kedewasaan. Tapi tidak bisa digebyah-uyah kemudian seluruh mahasiswa yang kritis ini distigmakan memiliki standar etika dan moral yang rendah,” katanya, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 24/6/2026.
Menurutnya, sikap kritis mahasiswa terkadang memang disertai tindakan yang provokatif atau emosional. Namun, hal tersebut tidak boleh menghilangkan ruang bagi mahasiswa untuk belajar dan berkembang melalui pengalaman politik mereka.
“Mahasiswa juga punya hak untuk melakukan kesalahan. Mereka tidak harus sempurna seperti pejabat publik yang setiap ucapan dan tindakannya harus dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Oleh sebab itu, ia meminta publik tidak membesar-besarkan kesalahan yang dilakukan mahasiswa yang belakangan melakukan unjuk rasa.
“Namanya juga mahasiswa. Hampir semua tokoh politik ketika masih menjadi mahasiswa pernah melakukan kesalahan,” ucapnya.
Aria juga mengingatkan sejumlah contoh kritik keras yang pernah diarahkan kepada tokoh-tokoh nasional dalam berbagai aksi mahasiswa di masa lalu, termasuk terhadap Presiden pertama RI Sukarno, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, hingga Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.
“Dulu Bung Karno itu dikatakan, ‘Bung Karno, Bandrio, anjing Peking’. Bu Mega itu dulu dikatakan mulutnya bau solar, digambar gitu. Pak SBY dulu itu ada kerbau dibawa ke Bundaran HI, ditulisi ‘SBY koyo kebo, donga-dongo’ gitu. Ya itulah mahasiswa,” katanya.
Aria Bima menegaskan bahwa mahasiswa juga harus siap menerima konsekuensi hukum apabila melakukan tindakan yang melanggar aturan atau berujung pada aksi anarkis.
“Kalau sudah melakukan tindakan yang melawan hukum atau anarki, jangan cengeng. Kalau ditangkap polisi, ya hadapi prosesnya. Semua aktivis dulu juga pernah mengalami hal-hal seperti itu,” jelasnya.
Ia menilai, dinamika antara mahasiswa, politisi, dan pemerintah merupakan bagian dari proses pendidikan politik yang dapat mendewasakan semua pihak.*
Laporan oleh: Novia Suhari
