IHSG dan Rupiah Ambruk, Pengamat Soroti Optimisme Pejabat yang Tak Terbukti
FORUM KEADILAN – Pengamat dari Forum Sipil Bersuara (FORSIBER) Hamdi Putra menilai, pelemahan tajam pasar keuangan domestik dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa optimisme yang disampaikan sejumlah pejabat pemerintah tidak sejalan dengan realitas yang terjadi di lapangan.
Menurut Hamdi, prediksi yang sebelumnya disampaikan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad terkait potensi pembalikan arah pasar saham setelah 29 Mei 2026, serta pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengenai penguatan nilai tukar rupiah usai penerbitan obligasi global (global bond), terbukti tidak terealisasi.
“Semakin ambruknya pasar keuangan domestik dalam beberapa hari terakhir menjadi tamparan keras bagi narasi optimis yang dibangun oleh para pejabat publik. Janji mengenai pembalikan arah pasar dan penguatan rupiah terbukti gagal total, kalah oleh realitas sentimen investor,” kata Hamdi kepada Forum Keadilan, Jumat, 5/6/2026.
Sebelumnya, Dasco sempat menyampaikan optimisme bahwa kondisi pasar akan menunjukkan perbaikan setelah 29 Mei 2026. Pernyataan tersebut disampaikan saat mengunjungi Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah gejolak pasar saham. Saat itu, Dasco berharap berbagai langkah yang dilakukan pemerintah dan pemangku kepentingan pasar dapat mulai membuahkan hasil setelah tanggal tersebut.
Di sisi lain, pemerintah juga menyampaikan optimisme terhadap nilai tukar rupiah setelah penerbitan obligasi global atau global bond yang mendapat respons positif dari investor. Pemerintah meyakini, masuknya dana hasil penerbitan obligasi tersebut akan menambah pasokan dolar AS di dalam negeri dan membantu stabilisasi nilai tukar rupiah.
Namun, menurut Hamdi, perkembangan pasar justru menunjukkan arah yang berbeda. Ia menjelaskan, pada penutupan perdagangan 3 Juni 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 4,94 persen ke level 5.889,48 dan sempat menyentuh level terendah sekitar 5.842. Kondisi tersebut menurutnya, membuat pasar saham Indonesia mengalami penurunan lebih dari 30 persen secara year-to-date.
Sementara itu, pada 4 Juni 2026, nilai tukar rupiah disebut telah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dengan pergerakan di rentang Rp17.937 hingga Rp18.024 per dolar AS. Rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp18.045 per dolar AS setelah mengalami depresiasi lebih dari tujuh persen sejak awal tahun.
Hamdi menilai, kegagalan prediksi tersebut mencerminkan kelemahan komunikasi ekonomi pemerintah yang terlalu bertumpu pada narasi optimisme tanpa diiringi upaya mengatasi persoalan mendasar.
“Pasar tidak bergerak berdasarkan kalender pidato atau penanda waktu politik seperti ‘setelah 29 Mei’, melainkan berdasarkan keyakinan bahwa risiko kebijakan menurun,” ujarnya.
Menurut dia, setelah periode yang disebut-sebut akan menjadi titik balik pasar, justru muncul sejumlah tekanan baru yang memengaruhi sentimen investor. Di antaranya sorotan lembaga pemeringkat terhadap pengelolaan Danantara, minimnya katalis positif, hingga kekhawatiran terkait tata kelola.
Hamdi juga mengkritik pandangan bahwa masuknya dana hasil penerbitan global bond secara otomatis akan memperkuat rupiah.
“Pasokan dolar dari obligasi baru terbukti tidak otomatis menguatkan mata uang ketika arus modal keluar, kepanikan pasar, permintaan dolar, dan premi risiko Indonesia jauh lebih besar,” katanya.
Lebih lanjut ia menilai, persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini bukan sekadar gejolak pasar jangka pendek, melainkan menyangkut kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Menurut Hamdi, sejumlah lembaga pemeringkat internasional sebelumnya telah menyoroti aspek prediktabilitas kebijakan, kualitas tata kelola, dan konsistensi bauran kebijakan ekonomi pemerintah.
“Tekanan pada rupiah dan IHSG saat ini merupakan refleksi langsung dari keraguan investor terhadap arah ekonomi-politik Indonesia. Pasar membaca kredibilitas fiskal, independensi moneter, kualitas tata kelola, risiko defisit, hingga konsistensi pemerintah dalam menjaga disiplin ekonomi,” ucapnya.
Ia menambahkan, jika pemerintah terus mengedepankan narasi optimisme sementara indikator pasar menunjukkan tren pelemahan, maka yang terdampak bukan hanya kinerja pasar keuangan, tetapi juga kredibilitas komunikasi ekonomi pemerintah di mata publik maupun investor global.
“Akibatnya, yang runtuh bukan lagi sekadar angka indeks dan nilai kurs, melainkan kredibilitas komunikasi ekonomi pemerintah di hadapan publik dan investor global,” tandasnya.
Menurut saya, background itu paling pas ditempatkan setelah paragraf ketiga agar pembaca langsung memahami konteks kritik Hamdi sebelum masuk ke data IHSG dan rupiah.
Sebagai informasi, saat ini data pasar menunjukkan tekanan terhadap aset keuangan domestik masih berlanjut. IHSG pada penutupan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, tercatat turun 1,70 persen ke level 5.839,79. Level tersebut menjadi salah satu titik terendah IHSG dalam lima tahun terakhir di tengah aksi jual yang terjadi hampir di seluruh sektor saham.
Sementara itu, nilai tukar rupiah juga terus berada di bawah tekanan. Data pasar yang dirilis pada 4 Juni 2026 menunjukkan rupiah sempat bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar AS dan bahkan menyentuh kisaran Rp18.039 per dolar AS dalam perdagangan intrahari. Kondisi tersebut memperpanjang tren pelemahan mata uang Garuda sepanjang tahun ini.*
Laporan oleh: Muhammad Reza
