BI Buka Suara Menyoal Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS
FORUM KEADILAN – Bank Indonesia (BI) buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS dan kembali mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah.
Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp18.016 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 4/6/2026 pagi. Mata uang Garuda melemah 49 poin atau 0,27 persen.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan bahwa pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas dan menghambat prospek perdamaian.
Menurut Destry, kondisi ini membuat harga minyak dunia tetap tinggi sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan mendorong arus modal keluar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging,” ujar Destry dalam keterangan resmi, Kamis, 4/6/2026.
Ia mengatakan, selain faktor eksternal ada kebutuhan valas domestik yang masih cukup besar, terutama terkait repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN).
Agar dapat meredam gejolak di pasar keuangan, BI memastikan akan meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamental ekonomi domestik.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya,” tuturnya.
Intervensi dilakukan, katanya, dilakukan secara berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Di sisi lain, BI juga memperkuat daya tarik aset keuangan domestik melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang lebih pro-pasar agar dapat menjaga aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia.
Bank sentral terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Sebagai informasi, saat ini kerja sama LCT sudah dijalankan dengan Cina, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Destry mengatakan pemanfaatan LCT terus meningkat. Hingga April 2026, nilai transaksi LCT sudah mencapai sekitar US$22,7 miliar, mendekati total transaksi sepanjang tahun lalu yang sebesar US$25,7 miliar.
Walaupun rupiah tertekan, BI menilai pergerakan mata uang Garuda masih sejalan dengan tren pelemahan yang terjadi di kawasan.
“Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional. Secara year to date melemah 7,44 persen,” tuturnya.
Bank sentral juga memastikan ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga. Cadangan devisa Indonesia tercatat berada di level US$146,2 miliar pada akhir April 2026.
Destry pun menegaskan BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pelaku pasar dan korporasi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. *
