Rabu, 03 Juni 2026
Menu

Rupiah Tembus Rp17.900 per Dolar AS Pagi Ini

Redaksi
Uang Rupiah Indonesia dan Dolar Amerika Serikat | Ist
Uang Rupiah Indonesia dan Dolar Amerika Serikat | Ist
Bagikan:

FORUM KEADILANNilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 9.21 WIB, rupiah melemah 61,50 poin atau 0,34 persen ke level Rp17.900 per dolar AS.

Hingga pada pukul 9.39 WIB, rupiah bertahan pada Rp17.906,5 per dolar AS.

Posisi itu menjadi level terendah rupiah sepanjang sejarah atau all time low (ATL), melampaui rekor pelemahan yang sebelumnya pernah terjadi saat krisis moneter 1998.

Diketahui, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum mengganggu kondisi perekonomian nasional.

Menurutnya, pemerintah sudah mengantisipasi pergerakan kurs dalam penyusunan APBN, sehingga kondisi fiskal masih tetap terjaga.

Purbaya menjelaskan, fokus pemerintah saat ini bukan semata-mata pada pergerakan nilai tukar, melainkan menjaga pertumbuhan ekonomi domestik agar tetap kuat dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

Bendahara negara itu menilai bahwa fundamental ekonomi yang solid akan menjadi faktor utama yang menopang penguatan rupiah ke depan.

“Dari sisi anggaran, kami sudah memperhitungkan depresiasi rupiah hingga mendekati level saat ini. Jadi, anggaran negara masih dalam kondisi aman meskipun rupiah melemah ke posisi sekarang,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Minggu, 31/5/2026.

Secara teori uang, lanjutnya, suatu negara akan mengikuti kekuatan perekonomiannya. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya menjaga momentum pertumbuhan agar Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik di tengah ketidakpastian global.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah meningkat selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 1447 Hijriah.

“Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas,” ujar Denny dalam keterangan tertulis.

Walaupun demikian, BI menegaskan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global.

Denny menyebut komitmen tersebut dilakukan melalui berbagai instrumen stabilisasi yang selama ini digunakan bank sentral, baik di pasar domestik maupun internasional.

“Sebagaimana disampaikan Bapak Gubernur Bank Indonesia pada kesempatan sebelumnya, Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock,” tuturnya.

Menurut Danny, upaya itu dilakukan dengan mengoptimalkan intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara konsisten dan terukur.

Selain intervensi di pasar, BI juga memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter untuk menjaga daya Tarik aset keuangan domestik dan mendorong masuknya aliran modal asing.

“Selain itu, Bank Indonesia terus memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya aliran modal asing,” imbuhnya.

Dari sisi permintaan dolar AS, BI juga sudah memperketat ketentuan pembelian valas tunai. Mulai Juni 2026, pembelian valas terhadap rupiah tanpa underlying dibatasi maksimal USD25.000 per pelaku per bulan.

Ia mengatakan bahwa kebijakan itu diiringi dengan penguatan koordinasi bersama otoritas terkait untuk dapat menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

“Dari sisi permintaan dolar AS, Bank Indonesia juga telah menetapkan threshold tunai beli valas terhadap Rupiah tanpa underlying menjadi USD25.000 per pelaku per bulan yang akan berlaku mulai Juni 2026. Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi,” jelasnya.

BI memastikan akan terus memantau perkembangan pasar keuangan global maupun domestik hingga mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah.

“Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia,” pungkasnya. *