Senin, 18 Mei 2026
Menu

Utang Luar Negeri Indonesia Capai USD443,3 Miliar per Maret 2026

Redaksi
Dollar Amerika Serikat | Ist
Dollar Amerika Serikat | Ist
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia per akhir Maret 2026 tumbuh melambat di tengah penurunan utang sektor swasta.

Dalam laporan terbaru, BI menyebut posisi ULN Indonesia pada akhir kuartal I 2026 mencapai US$433,4 miliar atau sekitar Rp7.660,7 triliun (asumsi kurs Rp17.674 per dolar AS).

Angkanya tumbuh 0,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy) atau melambat dibandingkan pertumbuhan kuartal IV 2025 yang sebesar 1,9 persen yoy.

“Perkembangan posisi ULN tersebut dipengaruhi oleh ULN sektor publik dan ULN sektor swasta,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resminya, Senin, 18/5/2026.

Ramdan menjelaskan bahwa ULN pemerintah pada kuartal I 2026 sebesar US$214,7 miliar atau tumbuh 3,8 persen yoy. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 5,5 persen yoy.

Menurutnya, perkembangan ULN pemerintah dipengaruhi aliran modal asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional seiring tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Utang pemerintah digunakan untuk mendukung sejumlah sektor prioritas, antara lain sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,1 persen dari total ULN pemerintah, administrasi pemerintahan dan pertahanan 20,2 persen, jasa pendidikan 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, hingga transportasi dan pergudangan 8,5 persen.

“Sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel,” katanya.

Sementara itu, ULN swasta mengalami penurunan. Posisi ULN swasta pada triwulan I 2026 tercatat sebesar US$191,4 miliar,  turun dibandingkan posisi triwulan IV 2025 sebesar US$194,2 miliar.

Secara tahunan, ULN swasta kontraksi 1,8 persen yoy. Penurunan terjadi baik pada lembaga keuangan maupun perusahaan non-keuangan.

Kontraksi ULN lembaga keuangan mencapai 3,6 persen yoy, sedangkan perusahaan non-keuangan turun 1,3 persen yoy.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, hingga pertambangan dan penggalian dengan porsi mencapai 80,4 persen dari total ULN swasta.

BI menilai bahwa struktur ULN Indonesia tetap sehat. Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) yang turun menjadi 29,5 persen pada kuartal I 2026 dari sebelumnya 30 persen pada kuartal IV 2025.

ULN Indonesia juga masih didominasi utang jangka panjang dengan porsi mencapai 85,4 persen dari total utang luar negeri.

“Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN,” pungkasnya. *