Kamis, 16 April 2026
Menu

Purbaya Bertemu IMF-World Bank: Kondisi Fiskal Kita Kuat dengan Bantalan Anggaran Rp420 T

Redaksi
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, melakukan pertemuan dengan petinggi lembaga moneter dunia, seperti Managing Director International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva, World Bank, hingga perwakilan lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings di Washington DC, Amerika Serikat (AS), pada Selasa, 14/4/2026. | Dok Kementerian Keuangan RI
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, melakukan pertemuan dengan petinggi lembaga moneter dunia, seperti Managing Director International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva, World Bank, hingga perwakilan lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings di Washington DC, Amerika Serikat (AS), pada Selasa, 14/4/2026. | Dok Kementerian Keuangan RI
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, melakukan pertemuan dengan petinggi lembaga moneter dunia, seperti Managing Director International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva, World Bank, hingga perwakilan lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings di Washington DC, Amerika Serikat (AS).

Purbaya menjelaskan bahwa dalam pertemuan itu bahwa komitmen pemerintah Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), di tengah ketidakpastian global.

“Kami bertemu dengan 18 investor besar, termasuk Goldman Sachs dan Fidelity Investments. Mereka ingin memahami arah kebijakan pertumbuhan dan pengelolaan anggaran Indonesia, serta menilai apakah strategi tersebut kredibel dan berkelanjutan,” ujar Purbaya dalam keterangan tertulis, Rabu, 15/4/2026.

Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah sudah menyampaikan secara komprehensif berbagai kebijakan yang ditempuh, termasuk dampaknya terhadap anggaran negara dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Purbaya, respons dari IMF, Bank Dunia, hingga lembaga pemeringkat sangat positif, terutama terhadap kemampuan Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa membebani kebijakan fiskal.

“Mereka menunjukkan antusiasme tinggi dan menggali lebih dalam terkait fundamental ekonomi dan kebijakan kita. Selama ini mereka mempertanyakan bagaimana Indonesia dapat tumbuh lebih cepat dengan anggaran yang tetap terkendali,” ujar Purbaya.

Purbaya menyampaikan investor global, khususnya dari AS soal minat investasi bahwa terlihat menunjukkan ketertarikan pada instrument sektor keuangan, baik fixed income maupun equity.

“Ini sebagian besar merupakan investasi portofolio, bukan foreign direct investment (FDI). Namun, kami optimistis dalam waktu dekat aliran dana tersebut akan masuk dan turut mendorong penguatan pasar modal Indonesia,” lanjutnya.

Kristalina Georgieva menyoroti bahwa ketidakpastian global masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, antara lain dipicu oleh ketegangan geopolitik dan dinamika harga energi.

Purbaya menegaskan Indonesia mempunyai kondisi fiskal yang solid dan bantalan anggaran yang memadai.

“IMF tidak memiliki otoritas untuk mengurangi ketidakpastian global, namun menyediakan dukungan bagi negara yang membutuhkan. Indonesia tidak termasuk, karena kondisi fiskal kita kuat dengan bantalan anggaran sekitar Rp420 triliun,” terang Purbaya.

Purbaya menjelaskan bahwa Indonesia sudah melakukan penyesuaian kebijakan sejak akhir tahun lalu sehingga mampu menyerap berbagai tekanan eksternal, termasuk lonjakan harga minyak akibat konflik global.

“Kami mampu menyerap shock yang terjadi. IMF melihat kondisi ekonomi Indonesia secara positif, meskipun mereka tidak memberikan perlakuan khusus kepada negara tertentu,” sambungnya.

Dalam pertemuan dengan World Bank dan S&P Global Ratings, Purbaya juga memperoleh penilaian positif terhadap strategi fiskal pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto.

“Bank Dunia dan lembaga rating menyampaikan kepuasan atas strategi yang kami paparkan. Keraguan terhadap kemampuan Indonesia menjaga disiplin fiskal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kini semakin berkurang,” tambahnya.

Bank Dunia juga menyatakan minat untuk dapat memperdalam kerja sama dengan Indonesia, khususnya dalam mendukung pembangunan jangka panjang, pengentasan kemiskinan, hingga pembiayaan proyek strategis di negara berkembang.

Diketahui, sejumlah investor Global yang hadir pada saat investor meetings di Washington DC, seperti Fidelity, GSAM (Goldman Sachs Asset Management), Eaton Vance, dan MFS. *