Hardiknas 2024, Seskab Pramono Anung Dorong Kolaborasi Majukan Pendidikan Indonesia

Seskab Pramono Anung | Dok. Humas Setkab/Oji
Seskab Pramono Anung | Dok. Humas Setkab/Oji

FORUM KEADILAN – Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi seluruh pemangku kepentingan untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

“Kita tahu bahwa pendidikan akan maju kalau kita bersama-sama bergotong royong, bersinergi, berkolaborasi untuk memajukan pendidikan kita, sehingga dengan demikian, kita tidak bisa sendiri-sendiri,” ujar Pramono dalam pernyataan tertulisnya menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2024, Kamis, 2/5/2024.

Bacaan Lainnya

Menurut Pramono, perjalanan menuju pendidikan yang merdeka tidak mudah dan penuh tantangan. Namun, ia meyakini bahwa dengan upaya bersama, hal tersebut akan terwujud.

“Dengan semangat bersama, berkolaborasi, bekerja sama, bergotong royong, saya meyakini bahwa pendidikan kita akan menjadi lebih baik, lebih maju, dan lebih merdeka dalam belajar,” ujarnya.

Pramono mengajak semua komponen bangsa untuk bersama-sama membangun sumber daya manusia (SDM) yang tangguh dan memiliki kapasitas yang mumpuni.

“Selamat Hari Pendidikan Nasional. Mari melangkah lanjutkan Merdeka Belajar demi pendidikan Indonesia yang lebih cemerlang, lebih tangguh, dan lebih bersemangat,” tandasnya.

Sejarah Hardiknas

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap tanggal 2 Mei.

Sejarah Hari Pendidikan Nasional tidak lepas dari sosok Ki Hadjar Dewantara, pelopor pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda.

Mengutip laman Kemendikbud, pemerintah pertama kali menetapkan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional pada 16 Desember 1959.

Tanggal 2 Mei dipilih karena merupakan tanggal lahir Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Dia lahir pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta, dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat.

Ki Hadjar Dewantara lahir dari keluarga ningrat di Yogyakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, dia mengenyam pendidikan di STOVIA, namun tidak dapat menyelesaikannya karena sakit.

Akhirnya, Ki Hadjar Dewantara bekerja menjadi seorang wartawan di beberapa media surat kabar, seperti De Express, Utusan Hindia, dan Kaum Muda.

Selama era kolonialisme Belanda, dia dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah kolonial menyebabkan dia diasingkan ke Belanda, bersama dua rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Ketiga tokoh ini kemudian dikenal sebagai ‘Tiga Serangkai’.

Setelah kembali ke Indonesia, Ki Hadjar Dewantara mendirikan sebuah lembaga pendidikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa.

Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai Menteri Pendidikan setelah kemerdekaan Indonesia. Filosofinya, tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), digunakan sebagai semboyan dalam dunia pendidikan Indonesia. Dia wafat pada 26 April 1959.*