Menlu Retno di ICJ: Haruskah Komunitas Internasional Biarkan Israel Manipulasi Penggunaan Hukum?

Menlu RI Retno Marsudi berbicara dalam "2nd Summit for Democracy-Indo Pacific Regional Meeting" di Seoul, Korea Selatan, Kamis, 30/3/2023). | Dok Kemlu RI
Menlu RI Retno Marsudi berbicara dalam "2nd Summit for Democracy-Indo Pacific Regional Meeting" di Seoul, Korea Selatan, Kamis, 30/3/2023). | Dok Kemlu RI

FORUM KEADILAN – Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi yang meminta kepada Mahkamah Internasional (ICJ) membuat langkah nyata agar Israel dapat menghentikan agresinya di wilayah Palestina.

Retno menyampaikan argumen ini sebagai masukan untuk memperkuat Advisory Opinion oleh Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda.

Bacaan Lainnya

Ia meminta agar kepada komunitas internasional tidak membiarkan Israel memanipulasi penggunaan hukum internasional.

“Oleh karena itu, mari kita renungkan pertanyaan ini: haruskah komunitas internasional terus membiarkan Israel memanipulasi penggunaan hukum internasional untuk membenarkan tindakan ilegal mereka terhadap hak-hak dasar rakyat Palestina?” kata Retno dikutip dalam siaran di situs PBB, Sabtu, 24/2/2024.

Retno menegaskan bahwa kesucian Mahkamah Internasional haruslah dijunjung tinggi dan ia tidak mau mosi hukum dari Mahkamah Internasional diabaikan maupun tidak dipedulikan oleh Israel seperti hukum lainnya.

Sistem internasional seperti ICJ didirikan dengan keyakinan bahwa agar setiap umat manusia dilindungi oleh hukum tanpa terkecuali dan Retno menggarisbawahi, tidak ada satu pun negara-negara yang seharusnya kebal hukum.

“Harapan ada pada pengadilan ini, karena pengadilan ini adalah penjaga keadilan,” tuturnya.

Retno juga turut menyampaikan, Israel terlihat dengan sangat jelas tidak mempunyai niat menghormati, terutama dalam mematuhi kewajiban hukum internasional.

Karena, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu lebih lagi menyebut tidak ada yang menghentikan Israel. Hal tersebut dapat terlihat dari tindakan Israel di Gaza yang terus melanjutkan pemusnahan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil di Gaza.

Ia menilai, kematian hampir 30.000 jiwa tidak cukup bagi Israel. Dikarenakan, Israel kembali hampir melancarkan serangan terhadap Rafah, yang menjadi satu-satunya pintu gerbang bantuan kemanusiaan yang menyelamatkan nyawa ke Gaza.

“Tidak ada negara yang boleh diberi kebebasan untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan terhadap negara yang lebih lemah. Inilah sebabnya kita mempunyai hukum internasional,” tandasnya.*