Anti Politik Uang, Caleg DPRD DKI Dapil 5 Justin Andrian Pilih Pendekatan Emosional

Caleg DPRD DKI Jakarta Dapil 5 dari PSI Justin Andrian dalam program Caleg Bicara, Selasa, 23/1/2024 | M. Hafid/Forum Keadilan
Caleg DPRD DKI Jakarta Dapil 5 dari PSI Justin Andrian dalam program Caleg Bicara, Selasa, 23/1/2024 | M. Hafid/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Calon legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (caleg DPRD) DKI Jakarta dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Justin Andrian menilai, praktik politik uang yang kerap dilakukan oleh politisi setiap menjelang pemilihan merupakan pendidikan yang sangat buruk bagi masyarakat.

“Itu pendidikan yang buruk sekali kepada masyarakat,” kata Justin dalam program Caleg Bicara Forum Keadilan TV.

Bacaan Lainnya

Di sisi lain, politik uang menurut Justin, adalah politik norak. Pasalnya, uang yang diberikan dijadikan alat untuk ‘memaksa’ masyarakat agar memilihnya, meski belum kenal sekalipun.

“Menurut saya politik uang sangat norak. ‘Kamu tidak perlu kenal siapa saya, kamu terima saja uang saya, kamu pilih saya’ itu politik norak,” ujarnya.

Caleg DPRD DKI Jakarta daerah pemilihan (dapil) 5 ini juga meyakini bahwa politisi yang terlibat dalam praktik politik uang tidak akan mendapatkan pengembalian modal setelah terpilih sebagai anggota dewan. Menurut Justin, hal tersebut terjadi jika hanya mengandalkan gaji dan tunjangannya.

“Satu suara dia kasih 200 ribu, taruhlah butuh suara, satu kursi harganya 27 ribu suara, mau bayar itu dengan Rp200 ribu, miliaran pengeluarannya,” ucapnya memberikan contoh.

Lebih lanjut, menurut Justin, antara caleg dan masyarakat harus saling mengenal, termasuk menciptakan chemistry atau merasa saling terhubung antar keduanya dan terjalin secara emosional (bonding). Jika hal itu terjadi, kata dia, maka masyarakat akan memilihnya sekalipun diiming-imingi uang oleh caleg lainnya.

“Tapi itu memang butuh effort (usaha) yang lebih, dan itu sincerity (kejujuran), ketulusan juga dan itu juga dibuktikan selama menjabat,” tuturnya.

Dalam setiap kampanye, Justin selalu melakukan pendekatan secara emosional kepada masyarakat, salah satunya dengan memberikan nomor telpon pribadi kepada masyarakat yang ditemuinya. Upaya itu untuk memberikan ruang bagi masyarakat berkeluh kesah.

Makanya, lanjut Justin, sampai saat ini dia tidak pernah ganti nomor telepon, karena nomornya sudah disimpan oleh masyarakat. Menurutnya, ada banyak pesan yang masuk setiap hari dari masyarakat, mulai dari perkara yang penting hingga perkara kecil diadukan masyarakat kepadanya.

Dengan begitu, Justin menyisihkan waktu selama tiga jam setiap pagi untuk membalas dan menindaklanjuti apa yang sudah dikeluhkan masyarakat kepadanya. Menurutnya, kesempatan seperti itu yang dibutuhkan oleh masyarakat.

“Kalau masyarakat kecil, mereka sangat butuh akses,” pungkasnya.*

Laporan M. HafidĀ