Mendobrak Kebiasaan Politik: Bincang-bincang dengan Caleg Bobby Triadi

Bobby Triadi mengungkapkan keprihatinannya terhadap para petani dalam obrolannya di Forum Caleg Bicara, Selasa 7/11/2023 I Dok. Forum Keadilan
Bobby Triadi mengungkapkan keprihatinannya terhadap para petani dalam obrolannya di Forum Caleg Bicara, Selasa 7/11/2023 I Dok. Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Dalam diskusi Forum terbaru, Puspita Candra Dewi duduk bersama Bobby Triadi, seorang calon legislatif (caleg) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Kabupaten Bogor. Bobby, yang berafiliasi dengan Partai Kebangkitan Nusantara, membagikan perjalanannya ke dunia politik, pandangannya terhadap tantangan yang dihadapi petani, dan pendekatannya yang inovatif dalam berkampanye.

Percakapan dimulai dengan sapaan hangat yang memperlihatkan sikap ramah Bobby. Puspita kemudian menanyakan tentang awal keterlibatan Bobby dalam politik.

Bacaan Lainnya

Bobby mengungkapkan, latar belakangnya sebagai jurnalis lah yang memberikan dorongan dan minatnya terhadap urusan politik. Bagi Bobby, penting untuk memiliki individu baik di dunia politik. Hal itu  juga yang motivasinya untuk memberikan kontribusi positif pada politik.

“Kalau politik tidak diisi dengan orang-orang baik, maka politik akan diisi oleh orang-orang jahat. Saya menganggap diri saya baik, maka saya masuk politik,” ucap Bobby mengawali perbincanganya di Forum Caleg Bicara, Selasa 7/11/2023.

Keterlibatan awal Bobby di politik adalah dengan Partai Demokrat, di bawah kepemimpinan Anas Urbaningrum. Ia kemudian bergabung dengan Partai Hanura, sebelum bersama-sama mendirikan Partai Kebangkitan Nusantara. Bobby menekankan perlunya politik dipimpin oleh individu yang berintegritas, dan keputusannya untuk terlibat dalam politik didorong oleh keinginan untuk memastikan hal ini.

Percakapan kemudian beralih mendalami pengalaman dan observasi Bobby sebelum mencalonkan diri di Kabupaten Bogor. Ia pun secara tegas menyoroti lambatnya perkembangan di Bogor Timur, terutama dalam hal infrastruktur dan fasilitas umum.

Bobby juga mengaku prihatin terhadap petani. Ia menggambarkan petani sebagai kelompok yang masih menantikan manfaat penuh dari kemerdekaan.

“Pupuk susah, kalau pun dapat harganya tinggi. Kemudian ketika panen harga anjlok, tidak menutup biaya beli pupuk. Kalau terus-terusan seperti itu, petani menjual lahannya, nanti kita mau makan apa? Ini yang saya katakan petani belum merasakan kemerdekaan,” ungkapnya prihatin.

Fokus Bobby pada demografi ini, berasal dari pengalaman langsung berinteraksi dengan petani, dan mengenali perjuangan mereka.

Menanggapi pertanyaan Puspita tentang motivasi pencalonannya, Bobby membagikan kecintaannya pada sepeda motor dan pengalamannya berkendara melintasi wilayah Bogor selama pandemi Covid-19. Kemudian, Ia menyaksikan secara langsung tantangan yang dihadapi petani di sana, dan memutuskan untuk advokasi demi kesejahteraan ekonomi mereka.

Puspita kemudian menanyakan tentang permasalahan utama yang diangkat oleh para petani selama berinteraksi dengan mereka. Bobby menekankan, kecermatan penting dalam menanggapi kekhawatiran. Ia menyebutkan, dalam menghadapi permasalahan di sana, perlu adanya pengarahan bantuan pemerintah.

Seperti dana desa misalnya. Menurut Bobby, seharusnya dana desa dapat secara efektif untuk memberikan manfaat pada masyarakat dan dampak nyata pada kehidupan warga.

“Minimal, bagaimana bantuan-bantuan pemerintah atau program dana desa itu bisa dipergunakan benar-benar untuk tujuan yang tepat guna. Kalau dana desa hanya dipakai untuk membuat kantor desa, ya buat apa? Di desa bikin taman, buat apa? Banyak yang bisa benar-benar diarahkan berdampak langsung buat masyarakat,” tegasnya.

Percakapan kemudian beralih ke strategi kampanye. Bobby memandang, interaksi tatap muka merupakan hal penting. Meskipun Ia mengakui pentingnya peran media sosial dalam kampanye modern, tetapi nilai koneksi personal akan lebih baik menurutnya. Bobby pun menjelaskan bagaimana ia secara aktif terlibat dengan komunitas, khususnya di daerah pedesaan, untuk lebih memahami kebutuhan dan kekhawatiran mereka.

Dalam menanggapi keraguan karena afiliasinya dengan Anas Urbaningrum, Bobby menyatakan keyakinannya pada persepsi positif masyarakat. Ia menolak sentimen negatif yang ditemui di media sosial.

Mengenai durasi singkat periode kampanye saat ini, Bobby tetap optimis. Ia menyebut, pekerjaan awalnya untuk kampanye merupakan sebuah keuntungan. Bobby sadar kandidat lain lebih lambat ikut perlombaan, tetapi Bobby tetap memberikan panduan kepada rekan-rekannya sesama caleg untuk berkampanye.

Wawancara ditutup dengan pertanyaan Puspita kepada Bobby, soal keprihatinannya terkait manuver politik, dan pengaruh uang dalam kampanye. Menjawab hal itu, Bobby menjamin bahwa fokusnya adalah memberikan pelayanan yang tulus kepada masyarakat, dan mengulang komitmennya untuk menjaga transparansi dan integritas.

Saat Bobby menjelajahi jalur kampanye, keterlibatan langsung dengan akar rumput membedakannya dalam memandang politik. Menurut Bobby, ujian sejati akan datang selama pemilihan, di mana para pemilih memutuskan visi yang sejalan dengan aspirasi mereka untuk Kabupaten Bogor yang lebih baik. (Tim FORUM KEADILAN)