Suara NU Lebih Condong ke Ganjar-Mahfud?

Ganjar Pranowo dan Mahfud MD resmi mendaftar sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2024-2029 ke KPU RI | Novia Suhari/Forum Keadilan
Ganjar Pranowo dan Mahfud MD resmi mendaftar sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2024-2029 ke KPU RI | Novia Suhari/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Suara massa Nahdlatul Ulama (NU) menjadi primadona partai politik di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Hal ini terlihat dengan diusungnya Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai calon wakil presiden (cawapres) Anies Baswedan, serta Mahfud MD yang menjadi cawapres Ganjar Pranowo.

Bacaan Lainnya

Diketahui, Mahfud dan Cak Imin sama-sama merupakan tokoh asal Jawa Timur (Jatim) dan memiliki hubungan kuat dengan NU.

Sama-sama memperebutkan suara NU, mana yang lebih unggul?

Pengamat politik Universitas Brawijaya (UB) Profesor Anang Sujoko menilai bahwa Mahfud memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan dukungan dari NU daripada Cak Imin.

Anang menyatakan, meskipun Cak Imin memiliki kedekatan dengan kiai khos dan kiai sepuh NU, itu tidak menjamin bahwa dia dapat sepenuhnya mendapatkan dukungan dari kalangan NU.

Selain itu, menurut Anang, catatan buruk Cak Imin dalam hubungannya dengan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, mungkin akan mendorong Nahdliyin untuk berpikir ulang sebelum memilihnya.

“Oleh karena itu beberapa hal, ada NU yang tidak akan masuk dukungan kepada Muhaimin,” tukas Anang dalam keterangannya.

Posisi Mahfud yang tak memiliki partai, sementara Cak Imin Ketua Umum PKB pun dinilai tak terlalu berpengaruh terhadap suara NU.

Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) berpendapat, meski Mahfud MD tidak memiliki partai, itu tidak menjadi kelemahan yang berarti. Sebab, Saidiman menilai, pemilih sekarang cenderung memilih sosok yang memiliki kualitas personal yang baik.

“PDIP itu partai besar dan solid. Bisa menentukan sendiri calon dan wakil presiden, karena itu dia tidak membutuhkan tambahan partai lain pada dasarnya, sehingga menyebabkan Ganjar lebih mudah memilih calon wakil presiden di luar partai. Kualitas personal itu lebih penting jadi pertimbangan oleh pemilih dibanding afiliasi partai, karena Indonesia pada dasarnya tidak betah dengan parpol,” ungkapnya kepada Forum Keadilan.

Ditambah, kata Saidiman, Ganjar sendiri juga sudah didukung oleh massa NU.

“Selama ini Ganjar sudah didukung oleh massa NU,” lanjutnya.

Sementara, baik Mahfud maupun Cak Imin tak terlalu mempersoalkan perebutan suara NU tersebut.

Mahfud bahkan mempersilakan Cak Imin untuk meraih dukungan dari kalangan NU, begitu pula dengan dirinya yang juga akan berusaha memenangkan hati warga NU.

Mahfud mengaku, menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat yang tergabung dalam organisasi NU untuk memberikan dukungan kepada dirinya atau pasangan capres-cawapres lainnya.

“Saya dorong Cak Imin kampanye. Saya juga kampanye, tinggal nanti siapa yang mendatangkan dukungan,” ucap dia.

Di samping itu, Cak Imin meyakini potensi suara NU di Jatim bagi pasangan Anies dan Cak Imin berada di tren yang aman.

“Aman,” jawab Cak Imin singkat.

Di sisi lain, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Moh Mukri menegaskan, jika PBNU secara utuh menyerahkan pemilihan suara warga NU kepada masing-masing individu.

“Diserahkan kembali kepada masing-masing, tidak ada arahan, warga NU juga tidak bodoh (politik) jadi akan menentukan pilihannya siapa figur yang sekiranya bisa membawa kebaikan bangsa dan negara, karena politik NU adalah politik kebangsaan maka diserahkan sepenuhnya kepada warga NU, jadi Nahdliyin silahkan mau pilih siapa, tidak ada wajib harus milih siapa itu tidak ada,” imbuhnya kepada Forum Keadilan.

Dalam kondisi saat ini, tampaknya suara NU memang tidak bisa hanya mengarah ke salah satu pasangan. Suara NU tampaknya akan terbelah mendukung Ganjar-Mahfud dan sebagian kemudian ke Anies-Muhaimin.* (Tim FORUM KEADILAN)