Suara NU Tetap Ngalir Deras ke Ganjar Usai Anies Gaet Cak Imin

Anies Baswedan dan Cak Imin
Anies Baswedan dan Cak Imin | Ist

FORUM KEADILAN – Deklarasi Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai capres dan cawapres dinilai untuk menarik suara dari massa Nahdlatul Ulama (NU).

Tak mudah, PDIP justru mengklaim bahwa suara massa NU akan menjadi miliknya.

Bacaan Lainnya

Terkait perebutan suara massa NU, Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saidiman Ahmad menilai alasan PDI Perjuangan yang mengklaim deklarasi Anies dan Cak Imin justru akan membuat sebagian suara Nahdliyin mengalir ke Ganjar Pranowo itu bisa dibenarkan atau diterima.

“Mungkin dasarnya adalah pada pemilih secara umum NU. Memang, kita temukan porsi pemilih NU yang mengaku sebagai anggota aktif maupun tidak memang cukup banyak ke PDI Perjuangan. Salah satu basis NU kan Jawa Tengah dan Timur. Di sana PDI Perjuangan sangat kuat, jadi umumnya pemilih PDI Perjuangan di sana ya dari massa NU juga,” katanya kepada Forum Keadilan, Senin 4/9/2023.

Saidiman melanjutkan, di beberapa survei pihaknya menemukan kecenderungan pemilih massa NU memang mengalir deras ke Ganjar Pranowo. Bahkan, kata dia, mereka yang mengaku sebagai santri priyayi juga memiliki kecenderungan memilih PDI Perjuangan.

Saidiman mengaku, ia belum melakukan survei lanjutan setelah Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar mendeklarasikan maju sebagai pasangan capres-cawapres. Namun, dapat dipastikan massa NU lebih condong memilih Ganjar Pranowo.

“Suara NU itu bukan hanya PKB yang mewakili massa NU, tidak. Justru proporsinya banyak ke PDI Perjuangan. Intinya tidak semua orang NU ke PKB, tetapi mayoritas pemilih PKB dari NU,” sergahnya.

Saidiman mengungkapkan, alasan massa NU lebih memilih PDI Perjuangan karena latar belakang masyarakat yang umumnya berasal dari pedesaan. Masyarakat di sana merasa terwakilkan oleh PDI Perjuangan yang memiliki ciri khas partai ‘wong cilik’.

“Karena massa pemilih NU ini adalah masyarakat yang umumya dari pedesaan, mereka tani. Hal itu beririsan dengan PDI Perjuangan yang juga mewakili masyarakat dari kelas sosial semacam itu. Itu kan ciri khas partai wong cilik (PDI Perjuangan). Mereka merasa terwakilkan,” jelas Saidiman.

Meskipun begitu, Saidiman menekankan bukan berarti semua suara massa NU diambil alih oleh PKB ataupun PDI Perjuangan. Pasalnya, NU sudah terpecah secara politik. Ada bagian di tubuh NU yang resisten terhadap Cak Imin atau PKB.

“Gusdurian itu. Karena ada konflik antara Cak Imin dan Gusdur yang kemudian menjadi Gusdur tersingkir dari PKB. Masa pendukung Gusdur ini kan sangat karismatik di NU, pengikut banyak, jadi mereka resisten terhadap Cak Imin. Itu menjadi sumber tidak terlalu solid ke Cak Imin,” ungkapnya.

Hal lainnya, sebab suara Nahdliyin menjadi rebutan menurut Saidiman adalah karena populasinya. Suara NU sendiri ada di angka 20 persen atau sekitar 40 juta orang dari jumlah populasi.

“NU itu besar sekali. Di luar (pulau Jawa) masih ada dan banyak lagi NU yang lain. Di luar Jawa basis NU tidak ke PKB atau PDIP tapi ke partai lain,” tutupnya.

Sebelumnya, politikus PDIP, Deddy Yevri Sitorus mengklaim pemilih PKB yang didominasi oleh kalangan NU akan berpindah mendukung Ganjar setelah deklarasi Anies dan Cak Imin beberapa waktu lalu.

Klaim itu, kata Deddy lantaran sosok Ganjar yang terkenal religius dan memiliki hubungan baik dengan kalangan Nahdliyin. Bahkan, dia disebut diterima baik oleh para kiai NU.*

 

Laporan Merinda Faradianti