Review Barbie, Film Fantasi Penuh Warna yang Cerdas

Film Barbie
Film Barbie | ist

FORUM KEADILAN – Menciptakan ide untuk membawa Barbie ke live action merupakan hal yang luar biasa.

Live action garapan sutradara Greta Celeste Gerwig itu mampu membuat banyak penonton terpukau hingga membuatnya menjadi film terlaris ketiga di 2023.

Bacaan Lainnya

Bersama dengan Noah Baumbach, Greta Gerwig menciptakan film Barbie dengan nuansa serba pink dan pastel.

FIlm Barbie dirilis di bioskop Indonesia sejak 21 Juli 2023, dan masih bertahan di sejumlah bioskop hingga hari ini, Kamis, 3/8/2023.

Film Barbie memperlihatkan berbagai versi Barbie dan Ken sekaligus. Film ini dibintangi Margot Robbie, Ryan Gosling, Kate McKinnon, Simu Liu dan banyak artis papan atas lainnya.

Sinopsis

Barbie merupakan boneka yang hidup di Barbie Land, diciptakan oleh perusahaan Mattell di dunia nyata.

Di Barbieland para Barbie melakukan berbagai pekerjaan, seperti presiden, jurnalis, dokter dan lainnya. Semua Barbie adalah sama meskipun kulit dan penampilan berbeda, mereka digambarkan sebagai wanita yang hebat.

Dalam Barbieland juga ada para Ken, yaitu boneka Barbie versi pria. Namun para Ken hanya lah pelengkap dalam hidup Barbie.

Masalah dimulai ketika Barbie (Margot Robbie) mengalami hal-hal yang tidak biasa dirasakan oleh Barbie, salah satunya tiba-tiba Barbie mendapati telapak kakinya menapak tanah. Barbie kemudian bertemu Weird Barbie dan bertanya mengenai keanehan pada dirinya.

Weird Barbie mengatakan bahwa semua itu berhubungan dengan pemiliknya di dunia nyata. Oleh karena itu Barbie harus bertemu dengan pemiliknya agar bisa kembali menjadi Barbie sempurna.

Barbie pun memutuskan untuk pergi ke dunia nyata dengan Ken (Ryan Gosling). Dari sini masalah-masalah lain mulai bermunculan.

Film Barbie membahas isu feminisme dan juga budaya patriarki.

Memanjakan Penonton dengan Visual dan Soundtrack yang Menyenangkan

Penggambaran suasana dan latar pada film Barbie memang sangat luar biasa dan tidak main-main. Barbie Land yang merupakan tempat tinggal Barbie di set dengan berbagai warna pink dan cerah.

Bergaya suburban cul de sac, dream house yang digunakan Barbie dan berbagai barang di dalamnya pun terbuat dari plastik dengan berbagai warna pink sesuai dengan gambaran Barbie originalnya.

Pakaian dan kostum yang digunakan Barbie dan Ken juga terlihat indah dan sesuai dengan karakter. Semuanya terlihat indah meskipun menggunakan berbagai warna-warna mencolok.

Selain dimanjakan dengan visual yang mencolok ketika menonton Barbie, penonton juga dibuat enjoy dengan audio yang tidak mengecewakan.

Lagu Dance The Night oleh Dua Lipa, Barbie World oleh Nicki Minaj dan Ice Spice, Speed Drive oleh Charli XCX dan berbagai lagu lainnya yang digunakan dalam soundtrack serta scoring film Barbie juga pas dan selaras dengan suasana film.

Meskipun terasa cheesy, namun lagu Just Ken yang dinyanyikan oleh Ryan Gosling menjadi salah satu part yang sangat menghibur.

Desain set Barbie Land yang dibuat dengan sempurna, pakaian dan kostum, make up dan hairstyle untuk para karakter yang mempesona patut diapresiasi karena sangat totalitas.

Kemampuan akting para pemeran dalam Film Barbie juga tidak perlu ditanyakan karena diperankan oleh para bintang film yang sudah cakap berakting.

Margot Robbie menunjukkan penampilan yang ceria, lembut dan karismatik. Margot sebagai Barbie merupakan sosok sempurna karena penjiwaan karakter dan akting yang luar biasa. Body language, cara berbicara, ekspresinya juga tampak seperti Barbie.

Begitu juga dengan Ryan Gosling sebagai Ken. Character development Ken berhasil memperlihatkan kelakuannya yang nyeleneh dan lucu kemudian berubah menjadi pemimpin yang mengubah Barbie Land dalam waktu singkat. Menunjukkan bagaimana praktik patriarki dan toxic masculinity.

America Ferrera dan Ariana Greenblatt sebagai karakter ibu dan anak juga memiliki chemistry yang baik. Kemampuan akting dalam setiap karakter yang dimainkan oleh artis lainnya juga menjadi nilai lebih dalam film Barbie.

Jokes atau humor yang ada di dalam film Barbie juga membawa gelak tawa. Meskipun ada beberapa jokes yang agak sulit untuk dipahami, karena konteks yang digunakan kurang lazim dan beberapa berhubungan dengan isu-isu yang cukup berat.

Isu feminisme mengenai ketidakadilan yang sering dirasakan oleh perempuan berhasil digambarkan dengan baik dalam film Barbie.

Namun, karena terlalu terfokus pada isu yang dibahas, alur ceritanya menjadi terasa kurang rapi. Beberapa scene terkesan dipaksakan, terlalu cepat dan tiba-tiba. Termasuk ending Barbie yang memberikan tanda tanya.

Di beberapa menit terakhir film, hanya ditunjukkan cuplikan mengenai kehidupan manusia. Kemudian soal Barbie yang menyadari bahwa ia ingin menjadi manusia normal pun terlalu terburu-buru.

Mungkin sebagai perempuan Barbie ingin hidupnya sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa dikendalikan oleh siapa pun. Secara kesimpulan film Barbie masih sangat menghibur, terutama dengan visual yang serba pink.*

Laporan Rahmad Fadjar Ghiffari/Agnes Febrika Monalita Sitorus