Cegah Antraks, Dinkes Gunungkidul Antisipasi Masyarakat Tak Sembelih Ternak Jika Mati Mendadak

Ilustrasi Antrax
Ilustrasi Antrax | Ist

FORUM KEADILAN – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan dinas peternakan setempat untuk mengantisipasi masyarakat agar tidak menyembelih hewan ternak yang mati mendadak. Hal ini dilakukan menyusul seorang warga Pedukuhan Jati, Kelurahan Candirejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul meninggal dunia karena positif tertular antraks.

“Ketika kita tahu ada laporan yang meninggal dunia kita langsung berkoordinasi dengan dinas terkait dalam satuan. Kita punya Satgas One Health namanya. Ada di dalamnya beberapa institusi dinas termasuk TNI dan Polri, kita berkoordinasi dan turun ke lapangan. Kita melakukan pelacakan, kenapa ini meninggal dan dari rumah sakit mengatakan dia antraks,” katanya kepada Forum Keadilan, Sabtu 8/7/2023.

Bacaan Lainnya

Dewi melanjutkan, setelah kasus meninggalnya warga karena antraks, Dinas Kesehatan dan Peternakan langsung turun ke lapangan dan mengumpulkan warga untuk dicek lebih lanjut.

“Setelah kita turun ke lapangan kita kumpulkan warga ternyata mereka mengakui mengonsumsi daging dari ternak yang mati mendadak. Kemudian, ternaknya diperiksa dan ternyata antraks dan akhirnya seluruh warga yang bersentuhan dengan binatang itu, memakan, menyembelih, kita periksa darahnya. Dan setelah diperiksa ternyata positif,” lanjutnya.

Ia menyebut, setelah dilakukan pemeriksaan terhadap 125 sampel darah yang melakukan kontak dengan daging yang terkontaminasi antraks didapati 87 orang positif.

“Jadi namanya itu zoonosis yang penyakit menular dari hewan ke manusia saja. Jadi tidak ada penularan manusia ke manusia lain. Ada 3 cara penyebaran antraks, yang pertama kontak langsung bersentuhan kulit yang luka. Lewat kulit namanya antraks kulit, kemudian bisa dari konsumsi bisa jadi antraks saluran pencernaaan dan kalau terhirup bisa jadi antraks radang paru-paru,” jelas Dewi.

Agar tidak menyebar, Dewi menyarankan masyarakat yang memiliki ternaknya dan mati mendadak sebaiknya dilaporkan ke petugas.

Nantinya, petugas akan melakukan pemeriksaan terhadap ternak tersebut.

“Tidak boleh disembelih apalagi di konsumsi. Antraks itu mematikan tapi 95 persen antraks kulit itu lebih ringan. Antraks memang bawaan dari sapinya (ternak) jadi kalau kena udara jadi spora kuat yang mana tidak mudah rusak meskipun kena pemanas atau sulit rusak. Makanya kalau hewan mati mendadak sakit tidak boleh disembelih karena nanti bisa kena udara bisa kemana-mana,” terangnya.

Ia juga menegaskan bahwa penanganan kasus antraks yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul sudah ditangani oleh dinas kesehatan dan perternakan. Ia berharap agar masyarakat bisa memahami bahaya mengkonsumsi hewan ternak yang mati mendadak.

“Yang jelas semua ditangani oleh dinas peternakan dan dinas kesehatan,” tutupnya.*

 

LaporanĀ Merinda Faradianti