Kamis, 15 Januari 2026
Menu

Serangan Balik ke SBY-AYH dari Loyalis Anas Urbaningrum

Redaksi
Anas Urbaningrum
Anas Urbaningrum
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Penyataan Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra tentang Anas Urbaningrum mendapat serangan balik dari Koordinator Nasional Sahabat Anas Urbaningrum, Muhammad Rahmad.

Rahmad menyebut pernyataan Herzaky yang mengatakan Anas dan faksinya adalah sejarah kelam dari Partai Demokrat adalah cermin keangkuhan dan arogansi dari kader partai ‘kemarin sore’.

“Herzaky Mahendra Putra adalah anak kemarin sore yang arogan dan angkuh. Ia juga tidak tahu cara membaca data dan melihat fakta di dalam Partai Demokrat,” kata Rahmad dalam keterangan tertulis diterima, Selasa, 4/4.

Rahmad justru menilai, sejarah kelam Demokrat justru terjadi ketika era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan anak-anaknya membawa Partai Demokrat yang awalnya sangat demokratis, merakyat dan milik rakyat, kini berubah menjadi partai tirani keluargais, otoriter, sewenang-wenang dan pura pura merakyat.

“Sejarah kelam kedua adalah Perolehan suara pemilu dan kursi DPR RI terendah sepanjang sejarah Demokrat, terjadi ketika SBY menjadi Ketua Umum dan ketika Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edy Baskoro Yudhoyono alias Ibas diserahi tugas memenangkan pemilu,” kritik Rahmad.

Sejarah kelam berikutnya, lanjut dia, adalah saat SBY mengaku sebagai pendiri partai demokrat dan mendaftarkannya ke Kemenkumham secara diam-diam sehingga AD/ART Partai Demokrat tahun 2020 dibuat oleh kroni-kroni SBY-AHY.

“Demokrat menjadi Partai anti Demokrasi yang pura pura Demokratis,” singgung Rahmad.

Rahmad pun menantang Partai Demokrat AHY untuk melakukan debat terbuka demi pembuktian klaim sejarah kelam yang disinggung oleh Herzaky.

“Buktikan bahwa sejarah kelam itu terjadi di masa siapa? Masa Anas atau masa SBY dan AHY,” katanya.

Demokrat Persilakan Anas Buka-bukaan

Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mempersilakan Anas untuk buka-bukaan kalau memang ada yang perlu dibuka. Sebab, menurut dia, Anas Urbaningrum kini bukan bagian dari Partai Demokrat.

Ia menyatakan Partai Demokrat malah bersyukur telah mendapat pelajaran pahit dari masa lalu yang membuat mereka jauh lebih kuat hari ini. Apalagi, kelompok-kelompok-kelompok yang disebutnya membuat rusak Demokrat sudah tidak ada lagi.

Herzaky menekankan, sisa-sisa anasir seperti kelompok Moeldoko sekalipun sudah tidak ada, berganti ke generasi baru. Ia merasa, mereka sudah belajar dari masa lalu, sehingga lebih hati-hati lagi agar tidak ada lagi upaya-upaya melakukan korupsi.

“Itu yang tidak kita inginkan karena bagaimanapun komitmen kami antikorupsi,” kata Herzaky, Selasa, 4/4/2023.

Walau hadapi tantangan besar, ia melihat, masa AHY sudah berhasil membangun satu komitmen dengan kode etik yang jelas. Jadi, ketika ada kader-kader yang terlibat kasus hukum, ada mekanisme, selain AD/ART, dan ada komitmen dari masing-masing.

Anas, kata Herzaky, merupakan masa lalu dari Demokrat yang sebenarnya tidak ada kaitan lagi.

Ia menegaskan, partai yang kini dipimpin Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ini mempersilakan saja kalau loyalis-loyalis Anas mengancam akan buka-bukaan karena sudah tidak ada kaitan dengan Demokrat.

“Kami tidak merasa ada hubungan sama sekali, buka, silakan saja, itu malah kita tunggu, silakan,” ujar Herzaky.

Menurut Herzaky, Anas memiliki masalah dengan KPK karena yang menangkap KPK dan bukan Demokrat. Justru, ia berpendapat, yang dirugikan Demokrat karena perilaku Anas dan kelompoknya dirasa merusak Demokrat yang elektabilitas tinggi kala itu.

Sekalipun loyalis menyebut Anas korban kriminalisasi, ia mengingatkan, itu tidak ada kaitan dengan Partai Demokrat, tapi ke KPK.

Herzaky mempersilakan mereka menuntut pimpinan-pimpinan KPK yang dulu mengkasuskan dan menangkap Anas. “Kami di internal malah tidak ada yang membahas,” kata Herzaky.

Herzaky menegaskan, apa yang diucapkan itu baru ke luar setelah diminta pendapat oleh awak media. Sebab, ia kembali mengingatkan, setelah Anas dan kelompoknya terlibat tindak pidana korupsi, Anas bukan bagian dari Partai Demokrat lagi.

“Begitu dia buat kasus dulu, ya sudah selesai. Bagi kami lemak lemak masa lalu yang merusak Partai Demokrat itu sudah hilang, tubuh kami ini sudah segar, lemak hampir tidak ada, stamina oke, fisik kuat, lari kencang siap,” ujar Herzaky.*