Kopi Lampung, Bola Dunia dan Didi Kempot

Admi Syarif | ist

Oleh Admi Syarif

 

KAMU dan kopi adalah dua hal yang sama. Sama-sama bikin “aku jatuh cinta”.

Mengapa “kopi” dan “hati” selalu serasi? Karena hati rentan tersakiti dan kopi selalu menemani hati yang tersakiti.

Provinsi Lampung sejak dulu dikenal sebagai slaah satu daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia. Maka tidak heran, minum kopi pun merupakan salah satu kebiasaan masyarakat Lampung sehari-hari.

Kopi Lampung umumnya merupakan jenis robusta. Dan bicara tentang daerah penghasil kopi robusta terbaik di Lampung, kebanyakan orang akan langsung menyebut Lampung Barat.

Sebutan ini tak berlebihan. Jika berkunjung ke Kabupaten Lampung Barat, sejauh mata memandang, di kiri-kanan jalan, kita akan disuguhi dengan pemandangan kebun kopi. Ada yang sedang berbuah, ada juga yang buahnya masih hijau. Luar biasa indahnya.

Pekan lalu saya berkesempatan mengunjungi Lampung Barat untuk mengantar mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) Universitas Lampung. Mereka akan tinggal di wilayah itu selama 40 hari.

Ini kali ke dua saya menginjakkan kaki di kabupaten penghasil kopi dan sayur-sayuran tersebut. Dengan cuaca dan airnya yang dingin, daerah ini memiliki banyak tujuan wisata alam.

Khusus terkait kopi, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat bahkan sengaja mendirikan Sekolah Kopi. Satu-satunya di Lampung, Sekolah Kopi bukan hanya menjadi wahana edukasi melainkan juga objek wisata yang banyak dikunjungi para pecinta dan pemerhati kopi dari seluruh Indonesia bahkan mancanegara.

Kopi Tubruk

Kalau Anda berkunjung ke Lampung, rasanya tidak lengkap jika tidak menyempatkan nongkrong sambil menyeruput kopi robusta Lampung. Di Kota Bandar Lampung, ibu kota Provinsi Lampung, ada banyak tempat yang cocok dan asyik untuk ngopi, sendiri atau bersama kawan dan keluarga.

Banyak varian dan racikan yang tersedia di kedai dan kafe-kafe. Tapi saya merekomendasikan Anda untuk mencoba kopi tubruk khas Lampung. Kopi tubruk dibuat memasukkan satu sendok kopi ke dalam cangkir, kemudian “ditubruk” dengan air mendidih. Keunikannya adalah kopi akan mengambang ke atas setelah seduhan diaduk dengan sendok.

Selain dengan cara biasa, Anda juga bisa menyeruput kopi Lampung sambil menggigit gula aren atau biasa disebut kopi gigik. Jika sudah begini ucapan yang pas adalah “wow bangek temon” alias wow enak banget.

Salah satu kopi bubuk robusta yang sangat melegenda di Lampung, menurut saya, adalah kopi cap “Bola Dunia”. Sejak dahulu, kopi yang dibungkus dengan kertas cokelat ini merupakan salah satu oleh-oleh wajib khas Lampung. Hingga kini, kopi Bola Dunia masih dapat dengan mudah dibeli di berbagai toko oleh-oleh atau secara online.

Saya yakin sampai saat ini penggemar kopi Bola Dunia masih banyak sekali. Sangat mungkin penggemar kopi ini adalah orang dengan angkatan sebelum angkatan milenial.

Tapi kopi memang soal rasa dan selera. Dan hebatnya, setelah berpuluh tahun, kualitas kopi Bola Dunia masih terjaga. Harumnya pun tetap tercium melewati masa.

Membahas kopi Lampung, tak lengkap rasanya tanpa menyebut nama almarhum Didi Kempot. Penyanyi campur sari dengan suara khas ini merupakan sosok yang berjasa turut mengangkat pamor kopi Lampung ke kancah nasional. Ini dilakukan Didi dengan menciptakan dan menyanyikan sebuah lagu apik berjudul “Kopi Lampung” .

Secangkir wedang kopi

Kopi Lampung niku kopi asli

Gula batu nopo gula tebu

Srupat-sruput ing wanci telu

 

Selamat ngopi. Dang lupo ngupei pai waghei!

 

Prof Admi Syarif PhD | guru besar Fakultas MIPA Universitas Lampung, pemerhati dan pecinta budaya Lampung

banner 468x60