Kamis, 19 Maret 2026
Menu

Transisi Pemerintahan Baru Perlihatkan Kemesraan Prabowo-Jokowi

Redaksi
Direktur Eksekutif Indo Barometer i dalam Podcast Poltak (Politik Taktis) Forum Keadilan di Forum Keadilan TV, pada Sabtu, 7/9/2024. | YouTube Forum Keadilan TV
Direktur Eksekutif Indo Barometer i dalam Podcast Poltak (Politik Taktis) Forum Keadilan di Forum Keadilan TV, pada Sabtu, 7/9/2024. | YouTube Forum Keadilan TV
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari, berpandangan bahwa Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden terpilih Prabowo Subianto telah menjadi partner jauh dari memasuki era Pilpres dan hal ini juga memperlihatkan sisi loyalitas Prabowo terhadap Jokowi.

“Tesis saya bahwa mereka dwi tunggal, mereka ini adalah partner dan ini sudah sangat jelas mulai dari sebelum Pilpres, bagaimana pak Prabowo itu mendukung pak Jokowi luar biasa, konsisten dan saya kalau orang cuman membicarakan mengenai Pilpres menurut saya salah besar, menurut saya loyalitas dan kontribusi pak Prabowo itu jauh sebelum itu, terutama dari zaman covid,” jelas Muhammad Qodari dalam Podcast Poltak (Politik Taktis) Forum Keadilan di Forum Keadilan TV, pada Sabtu, 7/9/2024.

Terutama, menurut Qodari keloyalitasan Prabowo sangat terlihat pada saat era virus Covid-19 yang menyerang Indonesia pada 2020-2023.

“saya bilang begini, pak Prabowo itu loyal kepada pak Jokowi, kenapa? karena di saat covid, dia dukung penuh, bayang kalau pada saat itu pak Prabowo tidak loyal, dia tidak mendukung PSBB, dia tidak mendukung vaksinasi, bahkan dia pidato tolak vaksin, tolak PSBB, saya yakin kacau-lah, enggak mungkin kita recovery begitu cepat,” katanya.

“Nah bukti bahwa dukungan itu dilakukan misalnya gini, Pak Prabowo itu divaksin, termasuk yang awal divaksin, bahkan ketika vaksin-vaksin yang dari luar itu belum datang, dia duluan vaksin nusantara,” sambungnya.

Dalam masa kepemimpinannya, Jokowi melakukan politik rangkul terhadap Prabowo dan disinilah Qodari menilai terjadinya perpindahan para pendukung Jokowi ke Prabowo.

“Kemudian, dalam perjalannya pak Jokowi juga kan banyak menggandeng pak Prabowo kemana-mana dan menurut saya itulah titik dimana mulai terjadi migrasi pemilih Jokowi itu ke Prabowo,” ucapnya.

Di sisi lain, loyalitas dan dukungan kepada Jokowi tidak hanya diberikan oleh Prabowo, tetapi dari Partai Gerindra pun juga memberikan dukungannya. Pernyataan yang diberikan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ahmad Muzani memberikan penegasan akan melanjutkan pemerintahan Jokowi.

“Lalu kita lihat baru-baru ini, kita ambil yang mutakhir aja lah ya, acara PAN, acara Gerindra yang begitu megah, yang begitu besar, pak Sekjen pidato tuh, ’10 tahun pemerintahan Jokowi akan kami pertahankan, kami lanjutkan, apa juntrungannya ini Sekjen ngomong begini, menurut saya alasannya adalah supaya menguatkan gitu lho, bahwa Sekjen juga ngomong begitu, menegaskan, habis itu pak Prabowo dukungannya habis,” terangnya.

Termasuk ketika ada momen Jokowi dan Prabowo yang saling memberikan puji satu dengan yang lain hingga mempertontonkan ‘kemesraan’ berdua.

“Pokoknya semua puja-puji, habis itu pak Jokowi juga memuji pak Prabowo, jadi saya kira itu puncak dari pertunjukkan kemesraan Jokowi dengan Prabowo,” ungkapnya.

Qodari menekankan bahwa Jokowi-Prabowo adalah satu paket dan keberlanjutan ini akan terus berjalan selama masa pemerintahan Prabowo.

“Itu kan semua menegaskan bagaimana dua orang ini satu paket dan satu paketnya itu keberlanjutan,” tuturnya.

“Keberlanjutannya buktinya dimana? soal IKN ditanya wartawan, ‘saya lanjutkan, secepat-cepatnya, sebaik-baiknya’ pak Hashim juga sebagai orang dekatnya pak Prabowo juga menegaskan hal yang sama dan proses-proses yang terjadi sampai sejauh ini, karena ini adalah istilahnya keberlanjutan maka proses transisinya dari dalam dan bukan dari luar,” imbuhnya.

Dalam masa peralihan Presiden lama ke Presiden baru, transisi yang terjadi selalu transisi patahan dan bukan keberlanjutan, seperti halnya pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari Megawati Soekarnoputri.

“Kita nggak menemukan peristiwa seperti 2014 dimana ada yang namanya rumah transisi karena memang antara SBY ke Megawati, SBY ke Jokowi itu kan suatu patahan rezim ya katakanlah begitu, 2004 pun patahan juga, dari Megawati ke SBY itu patahan,” katanya.

Di sisi lain, masa transisi Jokowi ke Prabowo telah dimulai sejak dikumpulkannya para Menteri untuk membahas APBN 2025 agar mendapat menyokong program Prabowo.

“Tapi ini kan cangkokannya ini gitu, nah kita lihat bagaimana transisi tim pak Dasco dan kawan-kawan dari Gerindra ketemu dengan Sri Mulyani Menteri Keuangan untuk membahas anggaran, untuk membahas program-program pak Prabowo yang notabene memang harus disiapkan sekarang ini, ketika Presidennya masih pak Jokowi kan gitu,” jelasnya.

Masuknya orang-orang terdekat Prabowo dalam Kementerian juga menurut Qodari agar dapat lebih memastikan semua proses transisi berjalan dengan lancar.

“Bahkan lebih lanjutnya lagi mas Tony Djiwandono jadi wakil Menteri Keuangan untuk lebih memastikan lagi lancarnya proses transisi itu gitu, kalau kita bicara transisi kan ada transisi program, ada transisi personalia, ada transisi keuangan, nah kita baru bicara transisi keuangan saja sudah mantap ini,” tambahnya.

Ia menjelaskan, terjadinya reshuffle dari Kementerian hingga organisasi atau lembaga adalah cara Jokowi untuk mempersiapkan.  Saat Prabowo dilantik pada 20 Oktober 2024, Institusinya juga dapat langsung mengeksekusi program Prabowo, salah satunya adalah program makan bergizi gratis.

“Berikutnya kita bicara transisi organisasi, bagaimana badan gizi nasional yang direncanakan akan mengelola makan bergizi gratis pak Prabowo disiapkan oleh pak Jokowi,” ujarnya.

Sebagai informasi, program makan bergizi gratis akan dilaksanakan pada 2 Januari 2024, yang artinya kurang lebih 3 bulan Prabowo-Gibran harus mematangkan semua unsur-unsur dan lembaga yang tercakup dalam program makan bergizi gratis tersebut.

“Ada yang bilang ‘kok itu mendahului’, enggak, justru pak Prabowo senang, begitu dia jadi Presiden, barang ini tinggal jalan, kan menyiapkan lembaga, menyiapkan institusi untuk negara sebesar Indonesia, seluas Indonesia, dengan penduduk sebesar Indonesia kan perlu waktu,” tegasnya.

“yang ketiga soal personalia, bagaimana masuk Tommy Djiwandono, masuk Sudaryono, kemarin-kemarin masuk Angga Raka Prabowo di Kominfo, masuk Supratman Andi Agtas di Kehakiman, jadi reshuffle-reshuffle yang belakangan ini, saya lihat judulnya ini tuh Prabowo, bagaimana pak Prabowo ke depan, disiapkan jalannya, langkahnya, tahapannya oleh Pak Jokowi,” tandasnya*