Kamis, 30 Juli 2026
Menu

Kepala BGN Sudaryono Angkat Suara Soal Tunggakan Rp1,6 T ke Dapur MBG

Redaksi
Kepala BGN Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Rabu, 29/7/2026. | Dok Badan Gizi Nasional RI
Kepala BGN Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Rabu, 29/7/2026. | Dok Badan Gizi Nasional RI
Bagikan:

FORUM KEADILAN  – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, buka suara soal tunggakan kepada pihak ketiga pada tahun anggaran 2025 yang mencapai Rp1,6 triliun.

Sudaryono menganggap kewajiban pembayaran pada pihak ketiga itu sebagai tunggakan daripada utang. Penyelesaian tunggakan itu, dikatakan Sudaryono, masih dalam tahap audit.

Ia menjelaskan tidak akan mengambil tindakan secara sepihak tanpa adanya rekomendasi dan verifikasi dari lembaga auditor.

“Mengenai utang, ini, tunggakan lah bukan utang ya, tunggakan ini ranah dari auditor, sedang diaudit. Manakala clean and clear, ya saya kira dibayar.” ujar Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Rabu, 29/7/2026.

Sudaryono mengatakan bahwa pembayaran tunggakan harus sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Ia memastikan utang kepada pihak ketiga bukan suatu masalah bagi BGN.

“Saya enggak ada, ‘Oh yang ini mesti ku bayar sendiri’. Enggak bisa ya, saya enggak mau itu. Semuanya trust in system, ya. Tidak trust in person,” lanjutnya.

“Kita ingin yang sah, yang bagus, yang benar, sesuai dengan mekanisme yang mana, itu yang kita selesaikan. Saya kira no issue, enggak ada masalah,” sambungnya.

Diketahui sebelumnya, Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, mengungkap komposisi tunggarakan Rp1,6 triliun yang tersebar di berbagai pos kegiatan. Pertama, belanja bahan untuk membeli seragam, KLB, call center, sendok, dan lain-lain sebesar Rp16,1 miliar.

Kedua, sertifikasi SPPG sebesar Rp111 miliar. Ketiga, jasa konsultan Rp200 juta. Keempat, sewa kendaraan insidentil Rp121 juta. Selain itu, terdapat honor narasumber (kegiatan Bimtek penjamah makanan Rp812 juta), jasa lainnya untuk EO, publikasi dan sebagainya Rp330 miliar. Ketujuh, utang ke Unhan untuk UH/UT, hingga pengiriman barang Rp7,3 miliar.

“(Kelima) Honor narasumber (kegiatan Bimtek penjamah makanan Rp 812 juta), tapi mohon maaf kami masih banyak utang ke tempat lain,” jelas Arumsari dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR, Jakarta Pusat, Jumat, 17/7/2026.

Keenam, jasa lainnya untuk EO, publikasi dan sebagainya Rp330 miliar. Ketujuh, utang ke Unhan untuk UH/UT, hingga pengiriman barang Rp7,3 miliar.

Kedelapan, perjalanan dinas Rp684 juta. Kesembilan, tunggakan bantuan pemerintah untuk MBG Rp100 miliar. Kesepuluh, belanja modal untuk pembangunan dapur APBN sebesar Rp1,04 triliun.

“Totalnya 1,609 triliun. Tapi Insya Allah kami akan lunasi, kami akan selesaikan di tahun 2026 ini. Tunggakan yang akan kami bayarkan di tahun 2026 yang sementara ini memang alokasi anggaran masih diblokir. Tetapi beberapa hal yang memang sudah melewati proses review dan sudah sesuai dengan ketentuan memang akan segera dibayarkan oleh DJA,” jelas Arumsari. *