Kamis, 21 Mei 2026
Menu

BI Ungkap Modal Asing Kabur dari Indonesia Capai Rp14,12 T di Kuartal I 2026

Redaksi
Bank Indonesia (BI) | Ist
Bank Indonesia (BI) | Ist
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkapkan aliran modal asing keluar (capital outflow) dari Indonesia mencapai US$800 juta atau sekitar Rp14,12 (asumsi kurs Rp17.650 per dolar AS) pada kuartal I 2026.

Diketahui, kaburnya modal asing terjadi di tengah memburuknya kondisi ekonomi global akibat perang di Timur Tengah.

“Aliran modal pada kuartal I 2026 tercatat net outflows sebesar US$0,8 miliar,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu, 20/5/2026.

Menurutnya, kondisi global yang memburuk membuat investor global beralih ke aset safe haven, khususnya obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury).

Ia mengatakan akibat dampak hasil US Treasury terus meningkat akibat membengkaknya defisit fiskal AS dan ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.

“Imbal hasil US Treasury yang telah naik ke 4,66 persen untuk tenor 10 tahun dan 4,11 persen tenor 2 tahun pada 19 Mei 2026 diperkirakan naik lebih tinggi didorong oleh defisit fiskal AS yang membesar,” tuturnya.

Perry menjelaskan bahwa kondisi itu memicu pelarian modal dari berbagai negara emerging markets menuju aset yang dinilai lebih aman dan memberikan imbal hasil tinggi.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga memperburuk sentimen pasar global. Penutupan Selat Hormuz akibat perang disebut mengganggu distribusi energi dunia dan mendorong lonjakan harga minyak global.

Walaupun demikian, Perry memastikan ketahanan eksternal Indonesia masih terjaga. Hal ini ditopang oleh masuknya kembali aliran moda asing pada kuartal II 2026.

“Berbagai respons kebijakan yang ditempuh dapat mendorong kembali masuknya investasi portofolio asing pada kuartal II 2026 yang mencatatkan net inflows sebesar US$5,5 miliar hingga 18 Mei 2026,” tuturnya.

Menurutnya, arus moda asing yang kembali masuk terutama mengalir ke instrument Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), seiring meningkatnya imbal hasil kedua instrumen tersebut.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tetap tinggi sebesar US$146,2 miliar. Angka itu setara pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. *