Harga Minyak Naik 2,3 Persen Jadi US$111 Setelah Trump Ancam Iran
FORUM KEADILAN – Harga minyak dunia melonjak 2,3 persen ke US$111 pada perdagangan pada Senin, 18/5/2026 setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan ancaman ke Iran.
Trump memperingatkan Iran agar segera bergerak di tengah kebuntuan perundingan damai soal nuklir.
Kenaikan harga minyak juga turut dipicu oleh level persediaan minyak yang sangat rendah.
Dilansir oleh oilprice.com, kontrak berjangka minyak mentah Brent melesat 2,32 persen menjadi US$111,64 per barel. Sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 2,85 persen menjadi US$108,30 per barel.
Sebagai informasi, Trump melontarkan ancaman kepada Iran dalam unggahan di Truth Social, dengan mengatakan Teheran hampir kehabisan waktu.
“Untuk Iran, waktunya terus berjalan dan mereka harus bergerak CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. WAKTU SANGAT KRUSIAL!” tulis Trump.
Peringatan Trump menandakan kebuntuan dialog antara Washington dan Teheran terkait kesepakatan damai dan pembukaan kembali Selat Hormuz dapat memicu kembali konflik bersenjata.
Walaupun gencatan senjata rapuh tercapai pada April, ketegangan antara Iran dan AS masih berlanjut. Teheran tetap menutup sebagian besar jalur perairan Hormuz, sementara pemerintahan Trump terus memblokade pelabuhan Iran.
Sebelum perang Iran melawan agresi AS dan Israel pecah, Selat Hormuz dilalui hampir seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanan terbarunya memperingatkan persediaan minyak global menyusut pada laju rekor selama Selat Hormuz masih ditutup.
“Cadangan yang menyusut cepat di tengah gangguan yang terus berlanjut dapat menjadi pertanda lonjakan harga di masa depan,” ujar IEA.
Menurut laporan Bank Swiss UBS pekan lalu, persediaan minyak dunia akan mendekati titik terendah sepanjang masa yaitu 7,6 miliar barel pada akhir Mei bila permintaan minyak tetap sama dari bulan ke bulan. *
