Ekonomi RI Kuartal I 2026 Tumbuh 5,61 Persen, Purbaya: Tiga Tahun Lagi Kita Bisa Kaya Bersama
FORUM KEADILAN – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 yang menyentuh 5,61 persen secara tahunan tidak diraih begitu saja.
Menurut Bendahara Negara itu, pemerintah sudah menyiapkan langkah yang membuat pertumbuhan untuk dapat mencapai 5,61 persen.
“Tumbuh 5,61 persen itu bukan tiba-tiba terjadi, tapi itu by design. Mudah-mudahan ke depan kita bisa teruskan itu sehingga kita bisa tumbuh lebih cepat. Ya dua tahun, tiga tahun lagi kita bisa kaya bersama,” papar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa, 5/5/2026.
“Kita bisa tumbuh 8 persen (pertumbuhan ekonomi) 2-3 tahun lagi, ya kita bisa kaya bersama lah, makan-makan lagi kita,” sambungnya.
BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Pada periode yang sama tahun lalu, ekonomi Indonesia tumbuh besar 4,87 persen (YoY).
Tetapi, ekonomi Indonesia kuartal I 2026 secara kuartalan terkontraksi 0,77 persen.
BPS juga mencatat konsumsi masyarakat masih terjaga yang terlihat dari pertumbuhan makanan, minuman, akomodasi, barang dan jasa lainnya. Surplus neraca perdagangan pun tetap berlanjut di tengah ketidakpastian global.
Kepala BPS, Amalia Adininggar, mengatakan terkait koreksi 0,77 persen secara qtq, ada berbagai faktor mulai dari konsumsi pemerintah yang menurun sampai kontraksi di sektor pertambangan.
Ia menjelaskan konsumsi pemerintah pada akhir tahun memang biasanya adalah momentum puncak. Bila dibandingkan kuartal I 2026 yang merupakan awal tahun, jika memang ada penurunan.
“Penyebabnya, tentunya dari sisi pengeluaran, itu konsumsi pemerintah juga mengalami penurunan dibanding Q4 2025 karena itu Q4 2025, karena itu kan di akhir tahun anggaran yang biasanya realisasi anggaran pemerintah itu puncaknya ada di Q4,” kata Amalia dalam rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia di Kantor BPS, Jakarta pada Selasa, 5/5.
“Selain itu ada beberapa sektor yang memang kalau memang dibandingkan dibandingkan antara Q1 2026 dengan Q4 2025 itu mengalami kontraksi misalnya sektor pertambangan, batu bara, dan juga migas,” sambungnya.
Amalia mengungkapkan ada kontraksi di sektor pembangunan yang juga faktor dan penyelesaian pembangunan infrastruktur biasanya lebih tinggi saat akhir tahun atau pada Q4. *
