Rabu, 15 April 2026
Menu

Pemimpin Hizbullah Tolak Rencana Pertemuan Israel-Lebanon

Redaksi
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem. | Dok Reuters
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem. | Dok Reuters
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menolak pertemuan antara pemerintah Lebanon dan Israel, yang rencananya akan digelar di Amerika Serikat (AS) pekan ini.

Diketahui, duta besar Lebanon dan Israel untuk AS dijadwalkan bertemu di Washington DC pada Selasa, 14/4/2026 waktu setempat, untuk membahas penyelenggaraan negosiasi langsung antara kedua negara.

Tetapim Qassem mengatakan bahwa upaya tersebut sia-sia, karena pasukan Israel masih lanjut meningkatkan serangan militer ke wilayah Lebanon. Ia mengatakan bahwa pembicaraan tersebut hanyalah taktik untuk menekan Hizbullah agar “meletakkan” senjatanya.

“Israel dengan jelas menyatakan bahwa tujuan negosiasi ini adalah untuk melucuti senjata Hizbullah, seperti yang berulang kali dinyatakan oleh (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu,” kata Naim Qassem dalam pidatonya yang disiarkan di televisi.

“Jadi bagaimana Anda bisa pergi ke negosiasi yang tujuannya sudah jelas? Kami tidak akan beristirahat, berhenti, atau menyerah. Sebaliknya, kami akan membiarkan medan perang berbicara sendiri,” sambungnya.

Sebelumnya, pemerintah Lebanon bersikeras bahwa prioritas utama saat ini adalah mengamankan gencatan senjata. Tetapi, Israel mengaku ingin membuka negosiasi perdamaian formal dengan Lebanon.

“Kami menginginkan peluncuran senjata Hizbullah, dan kami menginginkan perjanjian perdamaian sejati yang akan berlangsung selama beberapa generasi,” kata PM Netanyahu pekan lalu.

Sebagai informasi, akhir pekan lalu unjuk rasa juga terjadi di Ibu Kota Beirut. Para demonstran menuduh PM Lebanon, Nawaf Salim, mengkhianati rakyat karena mengadakan pembicaraan langsung dengan Israel, walaupun Israel gencar melakukan pengeboman dan memperluas invasinya.

“Israel dan AS dengan jelas mengatakan bahwa mereka ingin memperkuat tentara Lebanon, untuk melucuti senjata dan melawan Hizbullah. Tetapi tentara tidak dapat melakukan itu,” sambung Qassem.

Gencatan senjata Israel dan Hizbullah di Lebanon sebenarnya sudah resmi berlaku sejak November 2024. Tetapi, Israel terus melakukan serangan mematikan hampir setiap hari, bahkan menewaskan anggota TNI yang tergabung dalam pasukan UNIFI di Lebanon.

Hizbullah menegaskan bahwa serangan mereka ke Israel pada 2 Maret lalu adalah pembalasan atas pembunuhan Zionis terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei oleh AS dan Israel.

Sejak saat itu, pemboman dan invasi darat Israel ke Lebanon Selatan sudah menewaskan 2.055 orang, termasuk di antaranya 165 anak-anak dan 87 petugas medis. *