Rabu, 16 September 2026
Menu

Jumlah Titik Api Karhutla Turun, Menhut Minta Masyarakat Jangan Buka Lahan dengan Dibakar

Redaksi
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 16/9/2026 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 16/9/2026 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan, jumlah titik api atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high level confidence) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menunjukkan tren penurunan.

Raja Juli mengatakan, berdasarkan data yang dipantau pemerintah, jumlah hotspot sempat mengalami peningkatan sebelum kembali menurun pada 15 September 2026.

Hotspot yang high level confidence, dari tanggal 12 totalnya 398. Tanggal 12 turun 576 titik api, tanggal 14 naik lagi 1.309 titik api. Dan tanggal 15 itu turun lagi 968,” katanya, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 16/9/2026.

Tren penurunan tersebut terlihat di enam provinsi yang menjadi wilayah utama rawan karhutla, Kalimantan Barat (Kalbar), misalnya, mengalami penurunan jumlah titik api dari 221 menjadi 51 titik api berdasarkan pemantauan hingga pukul 23.59 WIB.

Kemudian di Kalimantan Tengah (Kalteng), jumlah titik api juga turun cukup signifikan, meski masih tergolong tinggi. Dari sebelumnya 697 titik api, jumlah tersebut berkurang menjadi 226 titik api.

Sementara itu, di Kalimantan Selatan (Kalsel), jumlah titik api turun tipis dari 112 menjadi 106 titik. Di Sumatra Selatan (Sumsel), titik api juga mengalami penurunan dari 259 menjadi 200 titik.

“Jambi ada kenaikan dari 14 ke 18, tapi ini alhamdulillah Jambi dan Riau terkontrol dengan baik. Riau dari 5 naik 15, setelah selama empat hari di Riau tidak ada titik api,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah saat ini masih memusatkan penanganan karhutla di sejumlah wilayah yang memiliki titik api relatif tinggi, terutama Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, serta Sumatra Selatan.

“Jadi konsentrasi utama kita tetap di Kalteng, Kalbar, dan Sumut/Sumsel-nya di Sumatra Selatan,” ucapnya.

Raja Juli menilai, tren penurunan tersebut tidak terlepas dari kerja keras berbagai pihak dalam melakukan penanganan dan pemadaman karhutla yang melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, TNI-Polri, BPBD, hingga masyarakat peduli api.

“Jadi sekali lagi, trennya terus menurun karena kerja keras teman-teman dari Manggala Agni Kemenhut, TNI-Polri, BPBD, masyarakat peduli api,” tuturnya.

Raja Juli juga meminta masyarakat agar tidak kembali menggunakan metode pembakaran untuk membuka lahan. Menurutnya, pembukaan lahan dengan cara membakar memang dianggap murah, tetapi dapat menimbulkan dampak yang besar.

“Namun kalau seandainya masyarakat tetap melakukan cara-cara lama, cara-cara ‘primitif’ gitu ya, masih membakar membuka kebun dengan cara membakar, memang murah, tapi dampaknya sangat luar biasa,” pungkasnya.*

Laporan oleh: Novia Suhari