Sabtu, 29 Agustus 2026
Menu

Teknologi Tepat Guna Ubah Limbah Baglog Jamur Menjadi Produk Bernilai Ekonomi

Redaksi
Program bertajuk “Penerapan Teknologi Tepat Guna dalam Pemanfaatan Limbah Baglog Jamur Menjadi Baglog Siap Pakai untuk Penguatan Ekonomi Sirkular UMKM" | Ist
Program bertajuk “Penerapan Teknologi Tepat Guna dalam Pemanfaatan Limbah Baglog Jamur Menjadi Baglog Siap Pakai untuk Penguatan Ekonomi Sirkular UMKM" | Ist
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Tim dosen Institut Teknologi dan Bisnis Diniyyah Lampung (INSTIDLA) menerapkan teknologi tepat guna untuk mengolah limbah baglog jamur menjadi bahan baku baglog siap pakai yang memiliki nilai ekonomi. Inovasi tersebut dilaksanakan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bersama Kelompok Kepung Seto di Desa Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.

Program bertajuk Penerapan Teknologi Tepat Guna dalam Pemanfaatan Limbah Baglog Jamur Menjadi Baglog Siap Pakai untuk Penguatan Ekonomi Sirkular UMKM ini menjadi salah satu upaya perguruan tinggi dalam membantu pelaku usaha mengatasi persoalan limbah sekaligus meningkatkan produktivitas dan nilai tambah usaha.

Kegiatan PKM diketuai oleh Sevi Andriasari, S.Kom., M.Kom.; dengan anggota Eka Ridawati, S.Kom., M.Kom.; dan Moh. Fakhrurozi, M.E.Sy., Ph.D. Ketiganya merupakan dosen Institut Teknologi dan Bisnis Diniyyah Lampung.

Program ini berangkat dari permasalahan limbah baglog bekas budidaya jamur yang belum dimanfaatkan secara optimal. Selama ini, limbah tersebut cenderung menjadi residu produksi. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, sebagian materialnya masih dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan dalam pembuatan media baglog.

Untuk mendukung proses tersebut, tim PKM menerapkan mesin pencacah limbah baglog dan mesin mixer pengaduk media baglog. Mesin pencacah berfungsi memperkecil dan menyeragamkan ukuran material limbah, sehingga lebih mudah diolah. Selanjutnya, mesin mixer digunakan untuk membantu menghasilkan campuran media baglog yang lebih homogen dan konsisten.

Penerapan teknologi tidak hanya dilakukan melalui penyerahan dan penggunaan alat. Tim juga memberikan pelatihan mengenai pengoperasian dan perawatan mesin, standar proses produksi, pengelolaan usaha, serta strategi pemasaran produk.

Ketua Tim PKM Sevi Andriasari mengatakan bahwa program tersebut dirancang untuk mengubah cara pandang pelaku usaha terhadap limbah hasil produksi.

“Limbah baglog tidak harus berhenti sebagai residu. Melalui teknologi dan proses pengolahan yang tepat, material tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali sehingga memberikan nilai tambah bagi usaha sekaligus membantu mengurangi beban lingkungan,” ujar Sevi.

Menurutnya, penerapan teknologi tepat guna juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi kerja mitra. Proses pencacahan dan pencampuran media yang sebelumnya membutuhkan tenaga dan waktu lebih besar dapat dilakukan secara lebih efektif dengan dukungan mesin.

Selain aspek produksi, program ini memberikan perhatian pada penguatan manajemen usaha dan pemasaran digital. Kelompok Kepung Seto didampingi untuk membangun pencatatan usaha yang lebih tertib, meningkatkan kemampuan pengelolaan produksi, serta memanfaatkan media digital dalam memperkenalkan produk baglog siap pakai kepada calon konsumen.

Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun usaha yang tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga memiliki tata kelola yang lebih baik dan akses pasar yang lebih luas.

Melalui pendekatan tersebut, tim PKM mendorong penerapan ekonomi sirkular pada usaha budidaya jamur. Konsep ini menempatkan limbah produksi sebagai sumber daya yang dapat dikembalikan ke dalam siklus usaha sehingga penggunaannya menjadi lebih efisien.

Pemanfaatan kembali limbah baglog juga dinilai memiliki manfaat ganda. Dari sisi lingkungan, pengolahan limbah dapat membantu mengurangi penumpukan residu budidaya jamur. Dari sisi ekonomi, material yang sebelumnya kurang bernilai berpotensi diolah kembali menjadi bahan pendukung produksi yang memberikan manfaat bagi UMKM.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan kelompok usaha melalui program tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus menggunakan teknologi yang kompleks. Teknologi yang sesuai dengan kebutuhan mitra, mudah dioperasikan, serta mampu memberikan dampak langsung justru menjadi bagian penting dalam proses pemberdayaan masyarakat.

Tim berharap teknologi dan pengetahuan yang telah diberikan dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan secara mandiri oleh Kelompok Kepung Seto setelah program berakhir. Keberlanjutan tersebut penting agar peningkatan produktivitas, efisiensi usaha, serta pengelolaan limbah dapat menjadi praktik rutin dalam kegiatan budidaya jamur.

Program ini merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 yang didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek).

Melalui dukungan tersebut, perguruan tinggi didorong untuk menghasilkan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Program di Lampung Selatan ini sekaligus menjadi contoh kolaborasi perguruan tinggi dan UMKM dalam meningkatkan produktivitas usaha, mengurangi limbah, menciptakan nilai tambah ekonomi, serta mendorong praktik usaha yang lebih mandiri dan berkelanjutan.*