Kamis, 06 Agustus 2026
Menu

Sesalkan Komentar Nirempati Nakes terhadap Pasien BPJS Viral, Komisi IX Minta Evaluasi Pelayanan Kesehatan

Redaksi
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris | Ist
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris | Ist
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris menyesalkan munculnya komentar-komentar yang dinilai tidak berempati dari sejumlah akun tenaga kesehatan (nakes) terhadap curahan hati seorang pasien BPJS yang viral di media sosial. Menurutnya, sikap tersebut bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar profesi tenaga kesehatan.

Charles menegaskan, setiap tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab untuk menjaga etika profesi dan menunjukkan empati kepada pasien. Namun, jika terbukti ada tenaga kesehatan yang melanggar kode etik, ia berharap langkah pembinaan hingga pemberian sanksi etik dapat diterapkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Saya berharap ada pembinaan dan sanksi etik yang tegas sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” katanya kepada wartawan, Kamis, 6/8/2026.

Meski begitu, Politisi PDI Perjuangan itu menilai, persoalan tersebut tidak hanya berhenti pada perilaku individu, melainkan juga menjadi cerminan masih terbatasnya kapasitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Menurutnya, ketersediaan fasilitas kesehatan maupun tenaga kesehatan di berbagai daerah masih belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Karena itu, ia meminta pemerintah menjadikan penguatan pelayanan kesehatan dasar sebagai prioritas dalam penggunaan anggaran negara agar masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan yang layak.

“Peristiwa ini juga menjadi potret bahwa kapasitas pelayanan kesehatan kita masih belum memadai. Saat ini ketersediaan faskes kesehatan dan juga tenaga kesehatan di banyak daerah masih jauh dari kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Charles juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya pasien yang utasnya menjadi sorotan publik tersebut. Ia menegaskan, setiap orang yang datang ke fasilitas kesehatan untuk mencari pertolongan berhak memperoleh pelayanan yang manusiawi, penuh empati, serta menghormati martabat pasien.

“Tentu saya juga berharap kejadian ini bisa menjadi evaluasi bagi kita semua dan di kemudian hari tidak terulang kembali,” tutupnya.

Diketahui, seorang pria bernama Yurizal Tri Chaerawan berkeluh kesah di media sosial Threads terkait dirinya yang seorang pasien BPJS Kesehatan namun tidak kunjung mendapatkan kamar selama delapan jam.

Akan tetapi, unggahannya tersebut justru direspons oleh beberapa akun oknum dokter maupun tenaga kesehatan dengan nada negatif dan dinilai nirempati. Permasalahan pun semakin membesar ketika akhirnya Yusrizal disebut meninggal dunia pada 31 Juli.

Walau hingga saat ini tak ada pernyataan resmi yang menyebut meninggalnya Yusrizal berkaitan dengan lamanya menunggu kamar rawat inap, tapi komentar nirempati tersebut memicu kecaman luas lantaran dinilai tak mewakili empati seorang tenaga kesehatan.*

Laporan oleh: Novia Suhari