Pemilu 2029: Ketika Kekuasaan Habis, Siapa yang Masih Percaya?
Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)
FORUM KEADILAN – Pemilu 2029 memang masih beberapa tahun lagi. Tetapi, bagi orang yang serius ingin menang, pertarungan sebenarnya sudah dimulai sejak sekarang. Bukan dengan memasang baliho setinggi gedung, bukan pula dengan membuat video setiap kali berjabat tangan dengan rakyat. Pertarungan pertama justru terjadi di tempat yang tidak terlihat kamera yaitu di kepala dan hati masyarakat.
Di sana muncul pertanyaan sederhana “Orang ini sebenarnya bisa dipercaya atau tidak?”
Pertanyaan itu menjadi semakin penting bagi mereka yang sudah pernah memegang jabatan. Karena mereka tidak lagi hanya membawa janji, tetapi juga membawa rapor masa lalu.
Apa yang pernah dikerjakan, bagaimana bersikap ketika berkuasa, siapa yang pernah didengar, siapa yang diabaikan, bagaimana memperlakukan bawahan, rakyat kecil, lawan politik, bahkan orang yang tidak bisa memberikan apa-apa kepada dirinya—semuanya bisa kembali menjadi bahan penilaian.
Maka ada satu pertanyaan yang barangkali lebih penting daripada semua survei elektabilitas yakni “Ketika saya sedang memegang jabatan dan ketika kamera tidak sedang menyala, apakah masyarakat tetap memiliki alasan untuk mempercayai saya?”
Pertanyaan ini agak kejam. Tetapi, politik memang kadang membutuhkan pertanyaan yang kejam agar kita tidak terlalu cepat percaya pada cermin yang sengaja dibuat bagus.
Ketika kamera menyala, hampir semua orang bisa terlihat ramah, senyum tinggal pasang, jabat tangan tinggal lakukan, pelukan tinggal cari sudut terbaik, datang ke pasar bisa menjadi berita, makan bersama pedagang bisa menjadi konten. Bahkan ekspresi prihatin pun sekarang bisa diedit dengan musik yang tepat.
Masalahnya sederhana, kamera tidak menyala selamanya. Ketika kamera mati, tidak ada lagi sutradara, tidak ada lagi fotografer, tidak ada lagi tim media sosial hingga yang tersisa hanyalah manusia dengan karakternya dan di situlah kepemimpinan sebenarnya dimulai.
Max Weber menyebut salah satu bentuk legitimasi kekuasaan sebagai charismatic authority. Secara sederhana, karisma adalah kemampuan seorang tokoh memperoleh kepercayaan dan pengikut bukan hanya karena jabatan atau aturan formal, tetapi karena masyarakat melihat sesuatu yang istimewa dalam dirinya.
Karisma bukan serta merta sekadar terkenal dan bukan punya jutaan pengikut. Bukan pula hanya pandai berbicara. Popularitas bisa dibeli tapi karisma harus dialami.
Baliho bisa mengatakan seorang tokoh hebat. Tim media sosial bisa mengatakan seorang tokoh dekat dengan rakyat. Survei bisa mengatakan elektabilitas sedang naik. Tetapi, pada akhirnya rakyat punya pengalaman sendiri—biasanya lebih sulit dibohongi.
Gandhi dikenang bukan karena baliho. Nelson Mandela tidak menjadi simbol perjuangan karena algoritma media sosial. Soekarno bukan sekadar seorang orator, tetapi tokoh yang mampu menjadikan gagasan kebangsaan sebagai energi kolektif. Muhammad Ali juga bukan hanya juara tinju, namun menjadi simbol keberanian karena bersedia berdiri di belakang keyakinannya.
Mereka mempunyai jalan hidup yang berbeda. Tetapi ada satu kesamaan, mereka membuat orang percaya bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan dirinya sendiri.
Dalam konteks Indonesia, fenomena Joko Widodo juga menarik dilihat dari sudut pengaruh personal. Terlepas dari bagaimana masyarakat menilai kebijakan dan warisan pemerintahannya, perhatian terhadap dirinya tetap kuat setelah masa jabatan berakhir. Ini menunjukkan bahwa pengaruh personal tidak selalu ikut pensiun bersama jabatan.
Tetapi, di sinilah kita menemukan hukum politik yang sederhana—jabatan bisa membuat orang datang, tetapi karakter membuat orang tetap datang.
Ketika seseorang berkuasa, biasanya banyak yang datang. Telepon ramai, undangan berdatangan, orang-orang yang dulu sulit ditemukan tiba-tiba tahu nomor WhatsApp kita. Bahkan ada yang mendadak sangat hafal tanggal ulang tahun. Itu semua bagian dari ekosistem kekuasaan.
Tapi, coba tunggu sampai jabatan selesai, telepon mulai sepi, undangan berkurang. Orang-orang mulai sibuk, dan sebagian mungkin lupa pernah mengenal kita.
Lalu muncul pertanyaan yang sangat sederhana, siapa yang masih datang ketika kita sudah tidak punya jabatan dan tidak punya sesuatu untuk diberikan?
Di situlah kualitas hubungan seorang pemimpin dengan masyarakat terlihat. Oleh karena itu, menjelang 2029, seorang calon pemimpin sebenarnya perlu melakukan audit yang tidak kalah penting daripada survei elektabilitas itu sendiri.
Tanyakan kepada diri sendiri, apakah saya tetap menepati janji ketika tidak ada wartawan? Apakah saya tetap peduli kepada rakyat ketika tidak ada kamera? Apakah saya tetap berani mengatakan yang benar ketika mengatakan yang benar bisa membuat saya kehilangan dukungan? Apakah saya memperlakukan orang kecil dengan hormat ketika tidak ada kepentingan politik? Yang paling penting adalah kalau jabatan saya hilang besok, apakah masih ada orang yang percaya kepada saya?
Itulah perbedaan antara pencitraan dan reputasi. Pencitraan bertanya “Bagaimana saya terlihat?”, reputasi bertanya “Apa yang sebenarnya saya lakukan?”. Pencitraan hidup dari kamera sedangkan reputasi tumbuh ketika kamera mati.
Masyarakat sebenarnya tidak terlalu bodoh, mereka mungkin tidak hafal teori Weber, tidak membaca buku komunikasi politik dan tidak mengikuti seminar tentang political branding. Namun, mereka memiliki kemampuan sederhana yang sering diremehkan politisi, yaitu adalah membandingkan apa yang dikatakan dengan apa yang dialami.
Seorang pejabat dapat mengatakan bahwa dirinya dekat dengan rakyat. Namun, kalau rakyat harus berputar-putar hanya untuk mendapatkan pelayanan sederhana, masyarakat punya kesimpulan sendiri.
Seorang pemimpin bisa mengatakan dirinya bersih, tapi jika perilakunya sehari-hari menunjukkan sebaliknya, masyarakat juga punya kesimpulan sendiri.
Tidak perlu kuliah politik, pengalaman sehari-hari sudah cukup.
Karena itu media sosial memang penting, tapi jangan sampai politik berubah menjadi perlombaan membuat video. Hari ini mengunjungi pasar kemudian besok menanam pohon. Lusa membantu pedagang lalu minggu depan makan bersama nelayan. Semuanya bagus—asal bukan hanya bagus di kamera.
Sebab konten dapat menunjukkan apa yang kita lakukan, tetapi hanya konsistensi yang dapat membuat orang percaya.
Akun palsu, buzzer, fitnah, disinformasi dan politik kebencian mungkin bisa membuat suasana ramai. Tapi, ramai tidak sama dengan dipercaya.
Bahkan ada bahaya yang sering dilupakan adalah masyarakat akhirnya tahu bahwa popularitas itu direkayasa, yang runtuh bukan hanya citra. Kepercayaan ikut runtuh.
Karena itu, kalau ingin serius menuju 2029, ada tiga modal yang seharusnya dibangun jauh sebelum masa kampanye: karakter, kedekatan dan karya.
Karakter menjawab pertanyaan “Siapa dia ketika tidak ada yang melihat?”, kedekatan pun menjawab pertanyaan “Apakah dia benar-benar memahami kehidupan rakyat?” dan karya menjawab pertanyaan paling sederhana “Apa yang berubah karena dia pernah berada di sana?”
Jangan salah, rakyat tidak menuntut pemimpin selalu besar. Pemimpin boleh salah tapi yang penting berani mengakuinya. Pemimpin boleh gagal, tapi tidak melempar kesalahan kepada orang lain. Justru kalimat sederhana “Saya salah dan saya akan memperbaikinya” kadang jauh lebih berharga dibandingkan 1000 baliho bertuliskan “berhasil!”
Bagi mereka yang pernah berkuasa, Pemilu 2029 akan menjadi semacam ujian akhir. Mereka tidak hanya menawarkan masa depan, namun membawa seluruh masa lalu ke hadapan pemilih.
Oleh karena itu, pertanyaannya bukan lagi sekadar, “Berapa banyak orang mengenal saya?” tapi pertanyaannya adalah “Berapa banyak orang mempercaya dan mengapa?”. Karena seluruh baliho diturunkan, apakah masih ada yang percaya?
Jika seluruh akun media sosial berhenti mengunggah, apakah masih ada yang mengingat karya? Kalau jabatan sudah selesai, apakah kita masih menjadi orang yang sama?
Kalau jawabannya belum, sebenarnya masih ada waktu. Tidak perlu terburu-buru membeli Baliho dan tidak perlu menyewa buzzer, bahkan tak perlu membuat konten setiap hari.
Mulailah dengan hal yang agak kuno namun terbukti ampuh seperti kerja yang benar, janji yang ditepati, keberanian mengambil keputusan, kesediaan mendengar, dan karya yang benar-benar dirasakan manfaatnya.
Kalau jawabannya sudah datang, tantangannya justru lebih berat. Jangan berubah saat kekuasan datang. Karena ketika baliho akan diturunkan, iklan berhenti, pengikut media sosial berpindah, dan jabatan pasti selesai.
Namun, pengalaman masyarakat terhadap kita bisa bertahan sangat lama, maka menuju Pemilu 2029, jangan hanya membangun mesin pemenangan. Bangunlah alasan bagi rakyat untuk percaya.
Karena Pemilu mungkin dapat dimenangkan oleh uang, mesin Partai, strategi komunikasi dan kerja politik. Usai pesat selesai, kamera mati, baliho dicopot, dan para pendukung pulang ke rumah masing-masing, yang tersisa hanyalah satu pertanyaan “Sebenarnya, selama berkuasa, orang ini menjadi siapa?”
Jawabannya tidak akan ditemukan di baliho, di TikTok, dan survei. Tetapi melainkan, jawabannya ada berada dalam ingatan orang-orang yang pernah berhadapan dengannya ketika tidak ada kamera yang menyala
Di situlah ukuran karisma yang paling jujur, bukan seberapa ramai orang datang saat ketika berkuasa, namun seberapa banyak yang tetap percaya ketika kita tidak lagi berkuasa. *
