Sabtu, 25 April 2026
Menu

AS Terus Berlakukan Blokade, Iran Tegaskan Tidak akan Buka Selat Hormuz

Redaksi
Selat Hormuz | Ist
Selat Hormuz | Ist
Bagikan:

FORUM KEADILANIran menegaskan bahwa tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) masih berlangsung.

Sikap Iran tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, termasuk penyitaan dua kapal di jalur pelayaran strategis itu.

Insiden itu bahkan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan perpanjangan gencatan senjata untuk memberi waktu bagi perundingan damai yang dimediasi Pakistan.

Iran pada Rabu, 22/4/2026, menyambut baik upaya mediasi tersebut. Tetapi belum memberikan tanggapan lebih lanjut atas keputusan Trump.

Ketua Parlemen Iran sekaligus pemimpin delegasi Teheran dalam perundingan awal, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa gencatan senjata tak mempunyai arti bila masih disertai tekanan militer.

“Gencatan senjata hanya bermakna jika tidak dilanggar melalui blokade laut. Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan di tengah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata,” jelasnya.

Ketidakpastian mengenai kelanjutan perang membuat harga minyak dunia tetap tinggi sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Harga minyak terus naik, walaupun pasar saham AS menunjukkan penguatan.

Trump menjelaskan bahwa pihaknya memberi waktu bagi kepemimpinan Iran yang dinilai “terpecah” untuk menyusun proposal damai. Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut sebagai upaya menghindari eskalasi konflik lebih lanjut.

Ia menegaskan pihaknya memberi waktu bagi kepemimpinan Iran yang dinilai “terpecah” untuk menyusun proposal damai. Sejumlah pengamat menilai langkah ini sebagai upaya menghindari eskalasi konflik lebih lanjut.

Trump mengatakan perundingan dapat kembali digelar di Pakistan dalam dua hingga tiga hari ke depan. Namun, Iran belum mengonfirmasi keikutsertaannya, sementara Wakil Presiden AS JD Vance menunda kunjungannya ke Islamabad.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengumumkan sudah menyita dua kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Berdasarkan laporan Tasnim, mereka mengatakan kapal tersebut melanggar aturan maritime. Kedua kapal tersebut adalah kapal adalah kapal container MSC Francesca berbendera Panama dan Epaminondas berbendera Liberia.

Kementerian Luar Negeri Panama mengonfirmasi penyitaan MSC Francesca dan menyebutnya sebagai “serangan serius terhadap keamanan maritime” hingga eskalasi yang tidak perlu.

Pemantau keamanan maritime juga melaporkan adanya insiden terhadap tiga kapal dagang di wilayah tersebut.

Salah satu kapal dilaporkan ditembaki kapal Garda Revolusi sekitar 15 mil laut dari Oman, menyebabkan kerusakan pada anjungan, tetapi  tanpa ada korban jiwa.

Di sisi lain, Angkatan Laut AS tetap menjalankan blokade terhadap kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran, sebagai bagian  dari upaya menekan ekonomi Teheran tanpa harus melanjutkan perang terbuka.

Dilansir Al Jazeera, pada Kamis, 23/4/2026, Komando Pusat AS (Centcom) mengklaim, pasukan AS telah memerintahkan 31 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan sebagai bagian dari blokade AS terhadap Iran.

Disebutkan bahwa sebagian besar adalah kapal tanker minyak. Dalam pembaruan yang dibagikan di media sosial X, Centcom mengatakan sebagian besar kapal sudah mematuhi arahan AS.

“Operasi blokade pelabuhan Iran melibatkan lebih dari 10.000 tentara AS, 17 kapal perang, dan lebih dari 100 pesawat,” kata CENTCOM.

Iran pun merespons blokade AS tersebut dengan menyatakan bahwa kapal diwajibkan untuk meminta izin sebelum melintasi Selat Hormuz.

Kebijakan ini menandai perubahan sikap, usai sebelumnya Iran sempat menjanjikan jalur aman selama gencatan senjata.

Kedua pihak saling menuduh sudah melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Di luar Selat Hormuz, ketegangan juga meningkat di Lebanon. Walaupun sudah ada gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hizbullah, serangan masih terjadi.

Media Lebanon pun melaporkan lima orang tewas akibat serangan Israel pada Rabu. Dua di antaranya adalah jurnalis, termasuk Amal Khalil yang dilaporkan tewas dalam serangan di dekat perbatasan. *