Purbaya Ungkap 30 Persen Subsidi BBM Dinikmati Orang Kaya
FORUM KEADILAN – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengklaim bahwa subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk orang kaya hampir mencapai 30 persen.
Purbaya menegaskan bahwa ke depan dirinya tidak berencana mengguyur stimulus walaupun harga BBM non subsidi naik.
Menurutnya, pengguna BBM nonsubsidi umumnya berasal dari kelompok masyarakat mampu.
“Yang (BBM) non (subsidi) kenapa dikasih subsidi lagi? stimulus lagi? Itu orang mampu ya biar saja,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa, 21/4/2026.
Ia menjelaskan bahwa kelompok masyarakat menengah atas hingga kaya, khususnya desil 8,9, dan 10 sudah menikmati berbagai bentuk subsidi pemerintah. Oleh karena demikian, kenaikan harga BBM non subsidi dinilai tidak perlu direspons dengan stimulus tambahan.
Diketahui, menurut Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) desil 8,9,10 merujuk pada kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan ekonomi menengah ke atas hingga kaya.
Purbaya mengatakan bahwa porsi subsidi yang dinikmati kelompok mampu sudah cukup besar.
“Mungkin desil 8, 9, 10 itu menikmati berapa persennya? Saya lupa persennya, tapi cukup besar hampir 30 persen subsidi yang kita kasih. Jadi kalau yang mampu itu harus bayar sedikit ya gak apa-apa,” tandasnya.
Diketahui sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sudah memberi sinyal soal harga Pertamax juga akan disesuaikan. Kepastiannya mengikuti harga minyak dunia.
Menurut Bahlil, harga BBM non subsidi seperti Pertamax mengikuti harga pasar minyak dunia. Artinya, jika ada kenaikan dan penurunan minyak global, maka dalam negeri akan mengikuti.
“Kalau harganya (minyak dunia) turun, ya nggak naik. Tapi kalau harganya begini terus (naik), ya mungkin (Pertamax) pasti ada penyesuaian,” ujarnya ditemui di kantornya, Senin, 20/4/2026.
Ia menegaskan bahwa beberapa harga BBM nonsubsidi sudah naik karena mengikuti harga minyak global. Dikarenakan, dalam APBN ditetapkan harga ICP di level US$70 per barel, sedangkan harga minyak masih di atas US$90 per barel.
“Saya katakan bahwa kalau yang untuk BBM non-subsidi itu ada penyesuaian harga. Tahap pertama mungkin sekarang dilakukan seperti sekarang. Tahap berikutnya kita lihat penyesuaian,” jelasnya.
Tetapi, Bahlil menegaskan untuk BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tidak akan ada kenaikan walaupun harga minyak dunia tidak menentu. BBM non subsidi pun akan diserahkan ke badan usaha untuk mengatur harganya.
“Pemerintah bisa menjamin itu kan adalah harga subsidi dan itu kan peraturan Menteri ESDM 2022 kan sudah jelas itu ada formulasinya,” pungkas Bahlil. *
