Dapat Suplai Energi dari Rusia, MPR Nilai Indonesia Masih Butuh Alternatif Pasokan BBM
FORUM KEADILAN – Wakil Ketua MPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno, menanggapi soal keperluan alternatif untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri, meskipun Indonesia telah mencapai kesepakatan pasokan energi dengan Rusia baru-baru ini.
Eddy menjelaskan, Indonesia selama ini mengimpor dua jenis komoditas energi, yakni minyak mentah dan BBM jadi. Minyak mentah diolah di kilang dalam negeri, sementara sebagian BBM diimpor dari negara lain seperti Singapura.
Menurutnya, terdapat risiko yang perlu diwaspadai, terutama terkait ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.
“Yang tidak bisa kita kontrol adalah ketika Singapura tidak mendapatkan pasokan minyak mentah untuk diolah, yang kemudian dijual ke Indonesia,” katanya, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 15/4/2026.
Meski begitu, ia menilai, kondisi saat ini masih relatif aman. Pasokan BBM dari Singapura dan Malaysia dinilai masih stabil, mengingat kesiapan kedua negara dalam menghadapi potensi disrupsi energi global.
Akan tetapi, Eddy mengingatkan, jika kedua negara tersebut mengalami kendala dalam memperoleh minyak mentah, Indonesia perlu segera menyiapkan strategi baru untuk menjaga ketersediaan BBM, terutama untuk sektor transportasi dan industri yang sangat bergantung pada pasokan energi.
Terkait dampak terhadap masyarakat, Eddy memastikan hingga saat ini kondisi belum memengaruhi konsumsi. Ia menekankan komitmen pemerintah dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan energi.
“Pemerintah sudah berkomitmen bahwa ketersediaan itu ada, produknya hadir. Keterjangkauan juga dijaga, tidak ada perubahan harga, terutama untuk BBM bersubsidi,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebijakan tersebut juga mencakup kebutuhan rumah tangga seperti LPG 3 kilogram.*
Laporan oleh: Novia Suhari
