Rabu, 15 April 2026
Menu

Sebut Ulama Terlibat Narkoba, Aboe Bakar Komisi III DPR Nangis Minta Maaf

Redaksi
Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Habib Aboe Bakar Al-Habsyi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 14/4/2026 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Habib Aboe Bakar Al-Habsyi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 14/4/2026 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Habib Aboe Bakar Al-Habsyi, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka usai pernyataannya dalam rapat kerja bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kepolisian menyinggung dugaan keterlibatan ulama dalam peredaran narkoba di lingkungan pesantren.

Aboe Bakar mengungkapkan permintaan maaf saat memenuhi panggilan Majelis Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI. Ia menegaskan, kehadirannya sebagai bentuk tanggung jawab atas ucapannya yang dinilai menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

“Saya memenuhi panggilan ini karena merasa bertanggung jawab atas apa yang saya katakan,” katanya, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 14/4/2026.

Ia secara khusus meminta maaf kepada para ulama, kiai, tokoh masyarakat, serta warga Madura, terutama di wilayah Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, yang merasa tersinggung atas pernyataannya.

“Saya minta maaf sedalam-dalamnya karena bahasa saya terlalu global dan tidak tepat, sehingga menimbulkan multitafsir,” ujarnya.

Aboe bakar mengakui narasi yang berkembang di masyarakat seolah-olah dirinya menyudutkan ulama dan pesantren. Padahal menurutnya, tidak ada sedikit pun niat untuk menghina atau mendiskreditkan kalangan tersebut.

“Saya tegaskan, tidak ada niat sedikit pun untuk menghina ulama. Mereka adalah guru-guru yang saya hormati,” singkatnya.

Aboe Bakar menjelaskan, pernyataannya saat itu disampaikan dalam konteks keprihatinan terhadap maraknya peredaran narkoba yang dinilai telah menyasar berbagai lapisan masyarakat. Ia bermaksud mendorong peningkatan kewaspadaan, termasuk di lingkungan pendidikan keagamaan seperti pesantren.

“Saya ingin mengajak semua pihak, termasuk pesantren, untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat pencegahan terhadap narkoba,” katanya.

Meski begitu, ia mengakui cara penyampaian yang kurang tepat telah memicu polemik. Ia pun berkomitmen untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat di ruang publik ke depan. Sebagai bentuk tanggung jawab, Aboe Bakar juga mengaku telah berupaya menemui sejumlah tokoh yang merasa kecewa atas pernyataannya. Ia berjanji akan terus melakukan klarifikasi secara langsung.

“Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan,” ucapnya.

Selain itu, Aboe Bakar juga menyampaikan permintaan maaf kepada Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan terkait pernyataan peredaran narkoba di kawasan rutan. Ia mengaku telah melakukan pengecekan langsung ke lapangan dan menemukan bahwa tidak semua lembaga pemasyarakatan terdampak narkoba, termasuk di wilayah Bangkalan.*

Laporan oleh: Novia Suhari