Pengidap Gangguan Jiwa Berat Divonis 16 Tahun Penjara

Kuasa hukum Andi, Parluhutan Simanjuntak, saat melakukan konferensi pers di kawasan Hotel Kimaya by Harrys, Slipi, Jakarta Barat, Rabu, 10/7/2024 | Merinda Faradianti/Forum Keadilan
Kuasa hukum Andi, Parluhutan Simanjuntak, saat melakukan konferensi pers di kawasan Hotel Kimaya by Harrys, Slipi, Jakarta Barat, Rabu, 10/7/2024 | Merinda Faradianti/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat menyatakan terdakwa Andi Andoyo telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindakan pembunuhan berencana.

Andi divonis 16 tahun penjara karena pada 2023 telah melakukan tindak pidana pembunuhan kepada seorang wanita bernama Fresa Danella (44) di dekat Central Park, Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Bacaan Lainnya

Vonis tersebut lebih ringan daripada tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang meminta Andi dihukum penjara selama 18 tahun.

Kuasa hukum Andi, Parluhutan Simanjuntak, mengaku kaget dengan putusan tersebut. Pasalnya, kliennya itu didiagnosa mengidap gangguan jiwa berat atau Skizofrenia Paranoid. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil visum dari Rumah Sakit Bhayangkara.

“Perbuatan pelanggaran hukum Andi merupakan bagian dari gangguan jiwanya,” katanya saat melakukan konferensi pers di kawasan Hotel Kimaya by Harrys, Slipi, Jakarta Barat, Rabu, 10/7/2024.

Adapun hal yang memberatkan putusan itu ialah majelis hakim menilai perbuatan terdakwa tergolong sadis dan menimbulkan duka kepada suami serta keluarga korban. Sedangkan hal yang meringankan adalah terdakwa belum pernah dihukum.

“Tidak ada pertimbangan soal gangguan jiwa klien kami. Berdasarkan visum yang dilakukan, dokter ahli kejiwaan dari Rumah Sakit Polri Bhayangkara sudah menyampaikan juga di persidangan. Dia tetap menyampaikan bahwa (Andi) mengalami gangguan kejiwaan berat,” tegas Luhut.

Parluhutan berharap agar kliennya Andi Handoyo atas keputusan tersebut dapat menjalani perawatan di rumah sakit jiwa.

“Itu sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” tutupnya.*

Laporan Merinda Faradianti