Menko Polhukam Ungkap 2% Pelaku Judi Online Anak di Bawah 10 Tahun

Menko Polhukam Hadi Tjahjanto bersama jajaran satgas Pemberantasan Judol dalam Konferensi Pers di gedung Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Rabu, 19/6/2024 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Menko Polhukam Hadi Tjahjanto bersama jajaran satgas Pemberantasan Judol dalam Konferensi Pers di gedung Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Rabu, 19/6/2024 | Novia Suhari/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Sebanyak dua persen dari pelaku judi online di Indonesia adalah anak-anak berusia di bawah 10 tahun.

Hal ini diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Hadi Tjahjanto dalam konferensi pers di Gedung Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Rabu, 19/6/2024.

Bacaan Lainnya

Kata Hadi, menurut data demografi saat ini, kalangan menengah ke bawah, termasuk anak-anak, merupakan korban judi online.

“Sesuai data demografi pemain judi online, ada yang berusia di bawah 10 tahun itu ada 2 persen dan totalnya 82.000 anak,” katanya.

Kemudian, lanjut Hadi, untuk korban judi online dalam usia 10-20 tahun, jumlahnya mencapai 11 persen atau sekitar 440.000 orang.

“Sementara usia 21-30 tahun itu sebanyak 13 persen atau 520.000 orang. Lalu, usia 30-50 tahun ada 40 persen atau 1.645.000 jiwa,” ujarnya.

Sedangkan, untuk pelaku judi online yang berusia di atas 50 tahun, jumlahnya mencapai 34 persen atau sekitar 1.300.050 orang.

“Ini rata-rata adalah kalangan menengah ke bawah dengan jumlah 80 persen dari jumlah pemain 2,70 juta,” ungkap Hadi.

“Sementara itu, untuk cluster nominal transaksinya sendiri, untuk kalangan menengah ke bawah itu antara Rp10.000 sampai Rp100.000. Menurut data untuk cluster nominal transaksi kelas menengah ke atas itu antara Rp100.000 sampai Rp40.000.000.000,” ucapnya.

Oleh karena itu, Hadi meminta kepada TNI/Polri untuk segera bertindak melalui Babinsa hingga Bhabinkamtibmas untuk melakukan penelusuran terhadap pelaku pembuatan rekening atas nama orang lain. Rekening-rekening tersebut kemudian dijual kepada bandar judi online untuk keperluan transaksi.

“Pelaku (pembuat rekening) ini sudah masuk ke dalam lapisan terbawah masyarakat. Saya juga meminta kepada Polri dan Kapuskom TNI untuk membuat radiogram agar semua Babinsa dan Babinkamtibmas bisa melakukan tugas yang saya sampaikan ini,” pungkasnya.*

Laporan Novia Suhari