BW Walk Out saat Eddy Hiariej Memberikan Keterangan di Sidang Sengketa Pilpres

Kuasa hukum pasangan calon nomor urut 01 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) Bambang Widjojanto (yang berbicara) usai skorsing persidangan sengketa hasil Pilpres 2024 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta Pusat, Rabu, 3/4/2024 | Ari Kurniansyah/Forum Keadilan Kuasa hukum pasangan calon nomor urut 01 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) Bambang Widjojanto (yang berbicara) usai skorsing persidangan sengketa hasil Pilpres 2024 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta Pusat, Rabu, 3/4/2024 | Ari Kurniansyah/Forum Keadilan
Kuasa hukum pasangan calon nomor urut 01 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) Bambang Widjojanto (yang berbicara) usai skorsing persidangan sengketa hasil Pilpres 2024 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta Pusat, Rabu, 3/4/2024 | Ari Kurniansyah/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Salah satu tim hukum Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Bambang Widjojanto (BW), meninggalkan persidangan saat Edward Omar Sharif Hiariej atau Eddy Hiariej akan memberikan keterangan pada sengketa pilpres di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK).

“Majelis, karena tadi saya merasa keberatan, saya izin mengundurkan diri ketika rekan saya Edward Hiariej akan menjelaskan. Nanti saya akan masuk lagi di saksi ahli selanjutnya sebagai konsistensi terhadap sikap saya,” ucap BW seraya meninggalkan persidangan.

Bacaan Lainnya

Eddy merupakan 1 dari 8 ahli yang dihadirkan oleh tim hukum Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Ia merupakan mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM yang sempat terlibat kasus suap.

BW menilai bahwa seorang yang menjadi tersangka dalam kasus tindak pidana korupsi harus dibebaskan untuk menjadi ahli guna menghormati peradilan di MK.

Menanggapi pernyataan tersebut, Eddy menjelaskan bahwa apa yang disampaikan Bambang tidak utuh dan cenderung sebagai pembunuhan karakter terhadap dirinya.

Eddy juga mengutip pernyataan dari Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri yang akan menerbitkan surat perintah penyidikan (sprindik) umum dengan melihat perkembangan kasus.

“Saya sebagai tersangka sudah saya challenge di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan keputusan tanggal 30 Januari membatalkan status saya sebagai tersangka,” ucap Eddy.

Eddy lantas membandingkan antara penetapan tersangka terhadap dirinya dengan Bambang, yang ia nilai hanya mengharapkan balas kasihan kepada Jaksa Agung.*

Laporan Syahrul Baihaqi