Di Debat Terakhir, Ganjar Bakal Beberkan Optimalisasi Akses Pendidikan Inklusif

Calon presiden (capres) nomor urut 3 Ganjar Pranowo saat berkampanye di Lampung | Instagram @ganjarpranowo
Calon presiden (capres) nomor urut 3 Ganjar Pranowo saat berkampanye di Lampung | Instagram @ganjarpranowo

FORUM KEADILAN – Debat kelima atau terakhir Pilpres 2024 tinggal lima hari lagi, Deputi Politik 5.0 Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar Pranowo-Mahfud MD, Andi Widjajanto, membeberkan fokus pasangan calon nomor urut 3 itu di debat mendatang.

Diketahui Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar debat terakhir Pilpres 2024 pada Minggu, 4 Februari 2024. Debat terakhir mengambil tema kesejahteraan sosial, kebudayaan, pendidikan, teknologi informasi, kesehatan, ketenagakerjaan, sumber daya manusia, dan inklusi.

Bacaan Lainnya

Andi mengatakan, sejumlah permasalahan pendidikan yang ada saat ini akan menjadi fokus utama Ganjar pada debat mendatang.

“Belum optimalnya kesejahteraan dan kualitas pendidik, masalah aksesibilitas pendidikan inklusif, dan beberapa permasalahan lainnya akan menjadi fokus Mas Ganjar pada debat terakhir nanti,” terang Andi, Selasa, 30/1/2024.

Andi menyebut bahwa program unggulan pendidikan yang akan digulirkan pada debat nanti ialah bagian dari kompas moral Ganjar dan bukan lah tanpa bukti keberhasilan. Keberhasilan itu, menurutnya, terbukti saat Ganjar menjabat Gubernur Jawa Tengah (Jateng) selama sepuluh tahun.

“‘Tuanku ya Rakyat, gubernur cuma mandat’ itu bukan sekedar tagline apalagi slogan politik. Kalimat itu adalah kompas moral Mas Ganjar dalam memimpin,” kata mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional itu.

Di Jateng, ungkap Andi, tercatat lebih dari 1.800 keluarga terbantu ekonominya berkat program SMKN gratis yang dikerjakan Ganjar.

Menurut Andi, dengan model asrama yang 100 persen gratis dengan praktikum dan kelas magang di Jepang, sebanyak 81 persen langsung bekerja di dalam dan luar negeri berkat program Ganjar tersebut. Sementara sisanya, lanjut dia, melanjutkan studi dan berwirausaha.

“Selain pendidikan formal, pendidikan nonformal yang inklusif pun jadi perhatian Ganjar, di mana Jateng memiliki sekolah agar perempuan terlibat aktif dalam perumusan kebijakan dan keterampilan teknis agar produktif secara ekonomi,” sebut Andi menerangkan program Serat Kartini yang berjalan di 35 kabupaten/kota di Jateng sejak 2020.

Andi mengatakan, lebih dari 12.000 perempuan telah menerima manfaat program tersebut.

“Mas Ganjar mengalami sendiri kesulitan ekonomi sampai berhutang ke rentenir ketika menempuh pendidikan tinggi, maka paslon menyiapkan program ‘Satu Keluarga Miskin, Satu Sarjana’, di mana satu anak dari satu keluarga miskin dapat mengenyam kuliah secara gratis,” ujarnya.

Di antara sederet program pendidikan Ganjar-Mahfud, ada juga sekolah gratis 12 tahun, termasuk bagi santri dan disabilitas.

“Kalau mau SDM kita unggul dan kemiskinan teratasi, harus ada investasi serius pada pendidikan dan investasi itu tidak boleh pandang bulu. Santri dan disabilitas juga harus punya akses terhadap pendidikan gratis yang berkualitas. Itu yang dipikirkan Ganjar-Mahfud,” pungkas Andi.*