Ada ‘Geng Jokowi’ di Tubuh PDIP

Momen Maruarar Sirait bersama Presiden Joko Widodo | ist
Momen Maruarar Sirait bersama Presiden Joko Widodo | ist

FORUM KEADILAN– Hengkangnya politisi senior dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Maruarar Sirait, menyisakan tanda tanya.

Pasalnya dalam kurun beberapa waktu, PDIP telah kehilangan beberapa kader andalannya, seperti Budiman Sudjatmiko, Bobby Nasution, hingga terbaru Maruarar Sirait.

Bacaan Lainnya

Melihat fenomena politik tersebut, Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin menilai, wajar jika ‘Geng Jokowi’ di tubuh PDIP memutuskan hengkang satu persatu.

Alasan hengkangnya Politisi yang akrab disapa Ara itu pun dinilai cukup untuk menunjukkan hal tersebut. Diketahui, saat memutuskan keluar dari PDIP, Ara mengaku mengikuti langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Alasannya yaitu tadi, ingin ikut Jokowi, ‘gengnya Jokowi’. Ya wajar kalau gengnya Jokowi itu keluar dari PDIP,” katanya kepada Forum Keadilan.

Ujang mengatakan, meskipun Jokowi belum secara resmi keluar. Namun, secara de facto, pemikiran dan tindakan ayah dari Gibran Rakabuming Raka itu sudah berbeda dengan PDIP.

Lebih lanjut, hengkangnya Maruarar dkk tersebut juga menandakan ketidaknyaman Jokowi di dalam tubuh PDIP.

“Ya kalau dilihat, secara garis besar di PDIP itu ada dua kubu, kubu Megawati dan Jokowi, yang keluar dari PDIP itu ya gengnya Jokowi, dan tegak lurus dengan Jokowi, karena Jokowi-nya sudah berbeda pandangan, dan secara de facto sudah keluar, meski secara de jure belum,” jelasnya.

Ujang menilai, kemungkinan masih ada kader PDIP lain yang akan hengkang.

“Ya mungkin saja, bisa ada yang keluar lagi atau bisa juga tidak, karena kan ada yang terang-terangan (keluar), ada juga yang (keluar) diam-diam,” tuturnya.

Sementara itu, hengkangnya Maruarar Sirait, Budiman Sudjatmiko, hingga Bobby Nasution disebut memiliki dampak negatif terhadap PDIP.

“Kalau saya melihatnya iya (ada dampak negatif) besar kecil ke depannya ada dampak negatif bagi PDIP, karena tidak mampu menjaga kekompakan partainya. Oleh karena itu di tengah ingin memenangkan Ganjar-Mahfud dan di tengah keinginan hectic PDIP untuk menang ketiga kalinya berturut-turut, maka keluarnya para kader itu, sangat merugikan PDIP,” ungkapnya.

Kendati berdampak negatif dalam skala sedang, Ujang menilai, PDIP harusnya memiliki strategi untuk mengantisipasi hal tersebut.

“Walaupun dalam konteks skala sedang, dan ketika itu tidak diantisipasi maka hal yang tidak mungkin juga akan banyak kader yang keluar. Jadi harus menjadi evaluasi juga bagi PDIP,” katanya.

Selain menjadi bagian ‘Geng Jokowi’, faktor lain pun diakui Ujang menjadi alasan utama hengkangnya Maruarar dan kader PDIP lainnya, salah satunya kepentingan politik pribadi.

“Tentu banyak faktor, pertama karena tidak nyaman. Kedua tidak ada masa depan di partai itu, misalkan seperti tersingkirkan di partai, tidak dapat jabatan apa-apa, tidak ada pengaruh, tidak dihargai, ujung-ujungnya repot jadi lebih baik keluar,” ujarnya.

Di samping itu, Jubir Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Cheryl Tanzil mengakui masih belum bisa mengungkapkan apa pun tentang masuknya Maruarar ke kubu Koalisi Indonesia Maju.

“Nanti dikabari kalau sudah resmi ya,” katanya.

Sedangkan, politisi senior PDIP Hendrawan Supratikno enggan mengomentari mengenai hal tersebut lebih lanjut.

“Sudah tutup buku itu, sudah tidak usah dikomentari lagi, karena semakin diperpanjang maka akan semakin (merasa) berharga nanti,” ucapnya singkat.*

Laporan Novia Suhari