Peran Masyarakat dalam Menghentikan Bullying Berulang

Ilustrasi Bullying atau perudungan di lingkungan pendidikan | ist

FORUM KEADILANPsikolog Anak Nasyiatul Utami Nazar, M.Psi., mengatakan, setiap anggota masyarakat memiliki perannya masing-masing dalam mengawasi tindak kekerasan atau bullying pada anak di bawah umur.

Nasyiatul menilai, faktor yang memengaruhi proses tumbuh kembang seorang anak dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga di rumah. Kemudian meluas pada guru di sekolah hingga tetangga di lingkungan bermain anak.

Bacaan Lainnya

“Tak bisa dielakkan bahwa orang tua adalah teladan pertama bagi anak yang memengaruhi keterampilan anak dalam berinteraksi di lingkungan yang lebih luas di luar rumah,” katanya kepada Forum Keadilan, Senin, 2/10/2023.

Nasyiatul memandang, gaya komunikasi yang dilakukan terhadap anak, juga menjadi sorotan terhadap daya kembang anak tersebut. Misalnya, orang tua harus menggunakan bahasa yang baik, intonasi bicara terhadap anak, gestur, ekspresi dan perilaku yang dapat digunakan dalam berkomunikasi terhadap anak.

“Interaksi antar anggota keluarga menjadi penting untuk diperhatikan oleh orang tua untuk dijadikan teladan yang baik oleh anak,” ucapnya.

Nasyiatul berpendapat bahwa tindakan bullying sudah mencapai tingkat kejahatan dan lingkungan anak harus bertindak tegas, termasuk memberikan teguran, nasehat, dan konsekuensi sesuai dengan kesulitan dan kerugian korban bullying.

“Pastinya setiap perilaku bullying perlu mendapat tindakan tegas, misalnya mungkin melalui teguran, nasehat, hingga konsekuensi yang sesuai dengan kesulitan atau kerugian yang dialami oleh korban,” imbuhnya.

Nasyiatul berpendapat bahwa sebagai orang dewasa, penting untuk menunjukkan perilaku yang benar sebagai upaya menanamkan nilai-nilai baik pada anak. Tindakan itu dilakukan agar tidak menjadi contoh perilaku buruk terhadap anak.

Children see, children do, maka kita sebagai orang dewasa perlu berusaha untuk selalu menampilkan perilaku yang benar jika ingin menanamkan value yang baik,” ujarnya.

Nasyiatul melanjutkan, perlu kepekaan terhadap perilaku anak saat berinteraksi, jika hal tersebut di luar dari pengawasan orang tua akan ada tindakan negatif yang dilakukan oleh anak tersebut, sehingga berpotensi melukai fisik dan mental anak lainnya.

“Perlu lebih peka akan perilaku anak-anak ketika berinteraksi satu sama lain apakah masih termasuk dalam kategori aman atau berpotensi menyakiti teman baik secara fisik dan mental,” tutupnya.*

LaporanĀ Ari Kurniansyah