Biang Kerok Bullying di Sekolah

Ilustrasi bullying di sekolah
Ilustrasi bullying di sekolah | ist

FORUM KEADILANBullying di sekolah telah menjadi salah satu masalah serius dalam pendidikan yang memengaruhi banyak siswa di seluruh dunia.

Fenomena ini tidak hanya merugikan secara psikologis, tetapi juga dapat memiliki dampak jangka panjang pada kesejahteraan mental dan emosional anak-anak.

Bacaan Lainnya

Bullying merupakan tindakan agresif, berulang, dan sengaja yang dilakukan oleh satu individu atau kelompok terhadap individu lain dengan tujuan untuk menyakiti, merendahkan, atau menguasai mereka secara fisik, emosional, atau sosial.

Bentuk-bentuk bullying mulai dari pelecehan verbal hingga pelecehan fisik, serta penyiksaan psikologis melalui media sosial.

Baru-baru ini seorang siswa di Cilacap, FF (14), mengalami bullying dan menimbulkan cidera cukup parah pada tubuhnya. Ada juga seorang siswi SD berinisial SA (8) di Gresik dicolok tusuk bakso oleh kakak kelasnya di bagian mata hingga buta.

Maraknya aksi bullying yang terjadi di sekolah dari tahun ke tahun, menurut Sosiolog dari Universitas Indonesia Ida Ruwaida, dikarenakan tindakan kekerasan (bullying) yang dilakukan oleh anak tidak dapat dipisahkan dari pengaruh lingkungannya, juga dari apa yang mereka alami dan saksikan. Faktor-faktor seperti lingkungan sekitar, media massa, media sosial, film, dan lainnya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sikap dan perilaku anak.

Ida Ruwaida menekankan, lingkungan sosial berperan penting sebagai wadah bagi anak untuk memproses dan mengembangkan perilaku mereka.

“Merujuk pada proses belajar sosial di atas, maka adanya kecenderungan sikap, tutur, bahkan bullying yang dilakukan oleh anak, tentu tidak bisa dilepaskan dengan apa yang dialaminya, juga apa yang diamatinya,” ujarnya kepada Forum Keadilan, Senin, 2/10/2023.

Mengutip hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia masuk dalam peringkat kelima negara dengan kasus bullying tertinggi di dunia dari 73 negara.

Semua pihak termasuk negara, kata Ida, harus meninjau kembali proses pendidikan mulai dari iklim sekolah hingga beban guru dan murid, juga peran orang tua terhadap anak.

“Isunya kompleks apalagi beban sekolah semakin dituntut mampu menghasilkan generasi emas,¬†sementara orang tua berposisi ‘pasif’ karena sudah menyerahkan pendidikan anaknya pada sekolah, padahal sekolah hanya membantu proses pendidikan formal,” ucapnya.

Di sisi lain, menurut Ida, sekolah kerap kali kelimpungan menghadapi murid yang susah diatur atau bahkan berperilaku buruk kepada gurunya sendiri di sekolah.

“Jika pada guru berani, apalagi pada teman mereka sendiri,” ucapnya.

Ida menegaskan bahwa pendidikan karakter dan sosial baik di rumah maupun di sekolah harus ditekankan, sehingga mampu mencegah terjadinya paparan pengaruh buruk dari luar.

“Keluarga maupun sekolah perlu sejak dini menanamkan kemampuan dan keterampilan sosial anak, serta berdaya, mandiri, kritis, tidak mudah terpengaruh,” tuturnya.

Sementara itu, Pengamat Sosial dari Universitas Negeri Medan (Unimed) Bakhrul Khair Amal menyebut, fenomena perundungan pada anak dapat disebabkan dari beberapa persoalan.

“Salah satunya mengalami masalah di rumah, alasan kesenangan ataupun meraih popularitas,” ucapnya kepada Forum Keadilan, Senin, 2/10.

Bakhrul menambahkan beberapa alasan lain seperti sebuah ajang pembalasan dendam untuk mendapatkan kepuasan, atau juga iri hati terhadap korban perundungan.

Selain itu, Bakhrul juga menuturkan bahwa pendampingan yang tepat oleh orang tua dan guru dapat mencegah terjadinya tindak bullying di sekolah.

Apalagi, kata dia, peran orang tua di sini sangat vital, orang tua harus menjadi contoh yang baik di depan anak dalam kondisi dan situasi apa pun.

“Anak jangan dijauhi atau dimarahi tapi dirangkul dan diajak berbicara. Itu bentuk pendampingan. Orang tua hadir pada kehidupan dan dalam aktivitas sehari-hari anak. Jangan ada eksklusivisme terhadap anak,” tutup Bakhrul.*

Laporan Syahrul Baihaqi