Bukan Hal Baru, Modifikasi Cuaca di Indonesia Ternyata Ada Sejak 1977

Ilustrasi modifikasi cuaca
Ilustrasi modifikasi cuaca | Ist

FORUM KEADILAN – Teknologi modifikasi cuaca atau TMC yang dulu dikenal sebagai hujan buatan kini digunakan sebagai upaya mengurangi polusi di Jakarta.

Bukan hal yang baru, sejatinya proyek ini sudah dimulai sejak 1977.

Bacaan Lainnya

Ide modifikasi cuaca bermula ketika Presiden Soeharto yang menjabat saat itu melihat pertanian Thailand yang cukup maju.

Kemajuan pertanian Thailand tersebut lantaran suplai kebutuhan air pertanian yang terpenuhi dengan bantuan modifikasi cuaca.

“Berawal dari itu, Presiden Soeharto mengutus Pak Habibie untuk mempelajari TMC ini, kemudian tahun 77 dimulai proyek percobaan hujan buatan yang waktu itu masih didampingi asistensi dari Thailand,” jelas Koordinator Laboratorium Pengelola Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Budi Harsoyo, dikutip dari laman resmi BRIN pada Selasa, 22/8/2023.

Harsoyo juga melanjutkan bahwa mulanya TMC dipelajari di Thailand akhirnya diterapkan di Indonesia untuk mendukung pertanian melalui pengisian waduk-waduk strategis. Baik untuk PLTA ataupun irigasi.

Usai pembicaraan soal hujan buatan pada 1977 silam, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berdiri pada 1978.

Proyek hujan buatan kala itu ada di bawah Direktorat Pengembangan Kekayaan Alam (PKA).

Pada 1985, akhirnya didirikan UPT Hujan Buatan melalui SK Menristek/Ka BPPT No 342/KA/BPPT/XII/1985.

Barulah pada 2015 dikenal istilah teknologi modifikasi cuaca (TMC) sesuai Peraturan Kepala BPPT No 10 Tahun 2015 yang mengubah nomenklatur UPT Hujan Buatan menjadi Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca.

Harsoyo mengatakan usai terintegrasi ke BRIN pada 2021 lalu, pelayanan TMC kini ada di laboratorium pengelolaan TMC di bawah payung Direktorat Pengelolaan Laboratorium, Fasilitas Riset dan Kawasan Sains dan Teknologi.

Ia berpendapat jika dalam satu dekade ke belakang, bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor atau kebakaran hutan dan lahan kian meningkat.

Maka dari itu, penggunaan TMC berkembang untuk mitigasi bencana.

Harsoyo menyebutkan sekarang ini TMC paling banyak juga rutin dipakai untuk menangani kebakaran hutan dan lahan.

Jika dulu Indonesia yang belajar dari Thailand, justru Negeri Gajah Putih tersebut belajar dari Indonesia.

“Bahkan Thailand yang dulu kita pelajari, sekarang justru belajar operasi TMC dari Indonesia terutama untuk kebutuhan mitigasi bencana, karena memang kita ini berkembang dalam operasionalnya,” ungkapnya.

Proyek TMC untuk mengurangi curah hujan pertama kali dilakukan untuk mendukung pelaksanaan SEA Games XXVI Palembang pada 2011.

Kemudian, TMC digunakan untuk menanggulangi banjir Jakarta pada 2013, 2014, 2020, hingga acara kenegaraan seperti KTT G20 tahun 2022.*