Peluang Gibran Jadi Cawapres Ganjar Hanya untuk Dinginkan Suasana

Gibran Rakabuming menyalami Ganjar Pranowo. | Antara
Gibran Rakabuming menyalami Ganjar Pranowo. | Antara

FORUM KEADILAN – Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti menilai, pernyataan Ketua DPP PDIP Puan Maharani yang menyebut Gibran Rakabuming Raka berpeluang menjadi calon wakil presiden (cawapres) Pi di Pilpres 2024, hanya untuk mendinginkan suasana di tengah banyaknya isu politik.

Sebab, peluang Gibran sebagai cawapres hanya bisa terjadi jika Mahkamah Konstitusi menyetujui gugatan atas perubahan batasan usia capres dan cawapres menjadi 35 tahun.

Bacaan Lainnya

“Itu hanya untuk mengademkan suasana, apalagi akhir-akhir ini orang selalu menyebut ada ketegangan antara Jokowi dengan PDIP secara umum, khususnya dengan ibu Mega (Megawati  Soekarnoputri) kan. Ditambah sejak PAN dan Golkar bergabung dengan koalisinya Prabowo, nah jadi ketegangan-nya meningkat,” kata Ray kepada Forum Keadilan, Minggu, 20/8/2023.

Selain itu, Ray mengungkapkan, ketegangan semakin kuat saat secara tiba-tiba Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyebut program Food Estate adalah kejahatan lingkungan, serta politisi PDIP Budiman Sudjatmiko yang mendeklarasi dukungan untuk Prabowo Subianto sebagai capres di Pilpres 2024 padahal PDIP mengusung Ganjar.

“Intinya muncul lah berbagai hal termasuk di dalamnya perpindahan Budiman Sudjatmiko, dan isu lainnya. Nah melihat suasana itu, lalu muncul lah nama Gibran itu juga supaya tidak terlalu ditarik-tarik oleh Prabowo ke kubunya gitu,” ungkap Ray.

Tak hanya untuk mendinginkan suasana, Ray juga menilai pernyataan soal Gibran cawapres Ganjar untuk mengurangi asosiasi seolah-olah Prabowo itu dekat dengan keluarganya Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Kedua, untuk mengurangi asosiasi seolah-olah Prabowo itu dekat dengan keluarganya Jokowi, sebab dari kalkulasi  politik, menurut saya sulit mempertemukan dua tokoh ini, yaitu antara Ganjar dengan Gibran,” jelas pria lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Ray berpendapat, menyandingkan Gibran dan Ganjar di Pilpres 2024 nanti bukan lah keputusan yang baik.

“Karena pertama sama-sama dari Jawa Tengah, kedua berasal dari partai yang sama, PDIP, yang ketiga itu seolah-olah mengabaikan peran dari partai pengusung,” tuturnya.

Jika menyandingkan keduanya diambil oleh PDIP, kata Ray, maka penolakan dari tim koalisi atau partai lain pun pasti tidak akan bisa dihindari.

“Nah jadi melalui tiga faktor ini, kans Gibran sebagai cawapres itu misalnya MK menerima (perubahan batas usia capres dan cawapres) 35 tahun yaitu cuma 20 persen, dan 80 persen itu akan tidak cocok alias akan ditolak oleh teman koalisi-nya yang lain apakah itu PPP, Perindo, saya hanya melihat pernyataan itu sebagai alat untuk mengademkan suasana,” tutupnya.*

Laporan Novia Suhari