Wacana Transportasi Air Jakarta Hanya Mempercantik, Takkan Mengurai Kemacetan

Wacana transportasi air dengan manfaatkan Sungai Ciliwung
Wacana transportasi air dengan manfaatkan Sungai Ciliwung | Kementerian PUPR

FORUM KEADILAN – Kemacetan adalah momok sistem transportasi di Ibukota DKI Jakarta yang tak pernah terselesaikan dari satu kepemimpinan gubernur ke gubernur lainnya di beberapa dekade terakhir.

Beragam moda transportasi publik dibangun sebagai solusi mengurai kemacetan Jakarta. TransJakarta, MRT bahkan LRT, adalah contoh nyata upaya tersebut.

Bacaan Lainnya

Namun tampaknya belum seoptimal dibayangkan. Pembenahan sistem transportasi secara parsial menjadi problematika yang tak pernah menyentuh substansi masalah secara holistik.

Kini, muncul lagi wacana baru untuk kembali menghidupkan transportasi air dengan memanfaatkan sungai besar, yakni Sungai Ciliwung dan sungai-sungai buatan seperti Banjir Kanal Timur (BKT) dan Banjir Kanal Barat (BKB).

Peneliti Ahli Utama Kebijakan Publik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syafuan Rozi Soebhan merespons hal tersebut.

Syafuan memandang sejarah Kota Jakarta sesungguhnya memang tak lepas dari sungai dan kanal.

“Kota Batavia itu adalah kota yang terhubung dengan air, dengan kanal. Jadi wilayah-wilayah di Jakarta itu terhubung dengan sungai Ciliwung, anak-anak sungainya dan sungai-sungai buatan yaitu banjir kanal timur (BKT) dan banjir kanal barat (BKB),” ungkapnya kepada Forum Keadilan pada Sabtu, 15/7/2023.

Syafuan menuturkan, bukan tidak mungkin jika Jakarta akan kembali menghidupkan transportasi air lantaran wacana ini juga pernah dicoba saat era Gubernur Sutiyoso.

Namun, ia berpendapat ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Yakni ketinggian air dan lebarnya bantaran sungai yang berbeda. Hal ini yang tidak memungkinkan dilewati oleh kapal.

Senada dengan Syafuan, Wakil Ketua Bidang Penguatan dan Pengembangan Kewilayahan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno juga menyebut menghidupkan transportasi air di Jakarta bukan hal yang tak mungkin. Dengan catatan, harus ada penataan hingga promosi yang optimal.

“Apapun bisa di Jakarta itu, yang penting ada cara promosinya, kemudian ada aktivitas di sepanjang sungai seperti perkantoran, ada pemukiman-pemukiman. Mungkin saja, minimal itu malam hari kalau dia bagus bisa untuk wisata air,” ujarnya ketika dihubungi Forum Keadilan pada Sabtu, 15/7/2023.

Syafuan dan Djoko sepakat jika transportasi air di Jakarta tidak hanya sebagai alternatif untuk mengatasi macet, tetapi juga untuk potensi perdagangan dengan bentuk pasar terapung dan pariwisata.

Pengamat kebijakan di Institute for Development of Policy and Local Partnership (IDP-LP) Riko Noviantoro bahkan juga menyepakati jika transportasi air di Jakarta ada potensi untuk meningkatkan ekonomi warga dengan bentuk wisata air. Namun, ia justru menyebut transportasi air tidak ideal untuk menjadi moda transportasi sehari-hari masyarakat.

“Kalau ditanya ideal, mungkin kita akan bicara berapa jumlahnya (biaya pembangunannya). Menurut saya, kalau kita menyandingkan biaya untuk membuat transportasi air, kemudian dengan mengajak masyarakat untuk menggunakan transportasi publik, saya lebih setuju untuk ‘memaksa’ masyarakat menggunakan transportasi publik yang sudah ada,” ungkapnya ketika dihubungi Forum Keadilan pada Jumat, 14/7/2023.

Blak-blakan, Riko justru menilai transportasi air hanya ideal untuk mempercantik tampilan kota, bukan untuk mengurangi kemacetan.

Jakarta kini memang tengah menggalakkan kemudahan akses dan intergrasi antarmoda. Hal ini dibuktikan dengan mudahnya konektivitas Transjakarta, KRL, MRT hingga LRT. Syafuan dan Djoko menyebut hal ini bisa dilakukan dengan transportasi air ini. Salah satunya dengan menyediakan dermaga-dermaga di tiap titik atau pusat kegiatan masyarakat.

“Misalnya daerah Cawang, Transjakarta, LRT dan KRL itu bertemu di Cawang. Itu bisa dibuat penghubung antara transportasi sungai dengan darat. Di Manggarai juga bisa,” ungkap Syafuan.

Kendala Hidupkan Transportasi Air di Jakarta

Memulai sesuatu yang baru memang selalu ada kendala. Selain ketinggian air dan lebar sungai yang berbeda, kendala lain yang dihadapi adalah sampah yang menumpuk.

Hal ini diamini oleh Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta, Gembong Warsono.

“Transportasi sungai untuk mengurai kemacetan Jakarta, tapi saat itu salah konsep saya pernah dengar, hanya dengar. Konsepnya itu perahu terlalu besar sehingga kedalaman sungai BKT mentok dan kandas dan mesinnya itu banyak sampah yang tergiling,” katanya kepada Forum Keadilan, Selasa 11/7/2023.

Jika tidak terkendala sampah, Gembong pun mengungkapkan kemungkinan Dukuh Atas akan menjadi dermaga sentral untuk transportasi air ini. Bahkan ia menyebut minimal sudah bisa dioperasikan rute Manggarai hingga Dukuh Atas.

Sungai yang memiliki potensi besar untuk menjadi titik utama transportasi sungai kata Gembong terdapat di Sungai Ciliwung. Untuk Banjir Kanal Timur (BKT) luasnya sudah mencukupi namun debit air masih belum mencukupi.

Soal perahu yang akan digunakan, Gembong juga menyebut perahu itu bisa didesain ulang sesuai dengan kedalaman hingga lebar sungai yang akan menjadi rute.

Masalah lainnya adalah dermaga yang tersedia. Ia menjelaskan jika dermaga untuk transportasi air sudah pernah ada, namun sekarang tidak diketahui nasibnya.

Syafuan secara khusus memberikan catatan soal dermaga yang akan menjadi naik dan turunnya penumpang. Selain dari pihak Dinas Perhubungan, pihak otoritas setempat yakni RT/RW hingga masyarakat untuk merealisasikan moda transportasi ini.

Soal biaya, Gembong menegaskan, untuk realisasi wacana tersebut bisa melibatkan pihak swasta. Pasalnya, jika mengambil dana dari APBD DKI Jakarta hal tersebut akan sulit.

“Kalau dari APBD dengan kondisi saat ini untuk operasional berat, kalau dikelola oleh ASN kita gak akan maksimal. Jauh lebih baik jika dilakukan pihak swasta, swasta mana swasta miliknya Pemprov  DKI Jakarta. Yang paling mendekati Jakarta Tourisindo, tapi pertanyaannya apakah mereka mampu itu yang perlu kita dalami. Artinya tupoksinya nyambung tinggal mampu apa enggak, jangan kita punya kemauan tapi setengah- setengah nanti ketika di lapangan ada kendala maka berakhir begitu saja,” paparnya.*