Kisah Mahasiswi Terlilit Uang Kuliah Tunggal Hingga Akhir Hayatnya

Ilustrasi UKT. | Ist

FORUM KEADILAN – Kisah seorang mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) terlilit oleh tingginya Uang Kuliah Tunggal (UKT) sampai akhir hayatnya viral di Twitter. Mahasiswi tersebut bernama Nur Riska Fitri Aningsih yang telah wafat pada 9 Maret 2022.

Kisah ini pertama kali dibagikan akun @rgantas dalam sebuah thread yang menceritakan pengalaman Alm Nur Riska Fitri Aningsih terlilit biaya kuliah. Thread tersebut telah dilihat 2,7 juta orang dan 13 ribu orang membagikan.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan cerita dari akun Twitter bernama Ganta Semendawai, dia mengetahui kepahitan yang dialami  Almarhum teman baiknya. Setiap mendekati masa pembayaran UTK, keceriaan Riska selalu luntur karena dibayangi ancaman putus kuliah dan mengubur mimpi Riska.

“Selama menjadi mahasiswa, ia dikenal sebagai orang yang ceria. Sangat ceria malah menurutku. Sayang keceriaannya mulai luntur tiap mendekati pembayaran UKT, seperti sekarang ini. Ancaman putus kuliah, seolah meremas-remas hatinya. Menyergap semua mimpi indah yang ia bangun,” cuit Ganta.

Riska merupakan mahasiswi Pendidikan Sejarah angkatan 2020 Fakultas Ilmu Sosial di UNY. Berasal dari desa kecil di Purbalingga dan berangkat ke Jogja untuk berkuliah dengan ongkos Rp130 ribu. Orang tua Riska sehari-hari menjual sayur gerobak pinggir jalan untuk membiayai Riska dan keempat adiknya. Tentu Saja itu tidak cukup untuk membiayai UKT Riska sebesar Rp3,14 juta.

Sudah banyak teman-teman yang membantu, tetapi tetap saja masih belum cukup untuk terus menerus menutup biaya UKT Riska per semester.  Riska sudah berusaha mengajukan keberatan terhadap nominal UKT yang diterimanya, tetapi seperti bola yang dipermainkan hanya di oper sana-sini. Potongan sebesar 600rb sempat diberikan tetapi Riska berharap dia bisa masuk golongan pertama bayar UKT.

Riska merupakan sosok yang memiliki ambisi tinggi untuk melanjutkan studi. Dia ingin menjadi sarjana dan membantu orang tuanya menghidupi adik-adiknya.

“Ia adalah sosok tak terlupakan. Kegigihannya untuk mencoba melanjutkan kuliah berasal dari tekad yg maha dahsyat. Meminjam Hemingway, tekadnya bak:  Bisa dihancurkan, tapi tak bisa dikalahkan,” cuit Ganta.

Namun, keinginan yang keras ternyata tidak cukup di butuh dana besar untuk Riska bisa tetap berkuliah.

Perjuangan itu pun akhirnya terhenti, Ganta tidak benar-benar tahu apa yang terjadi sebenarnya entah cuti atau harus bekerja kabar dari Riska tak terdengar lagi. Sampai akhirnya diketahui riska meninggal dunia tepat 9 Maret 2022 karena hipertensi pecah pembuluh darah.

“Tentu hal tersebut bukan bagian paling buruk nan menyakitkan. Bagian yg paling menyakitkan adalah mengetahui bahwa kisah ini benar-benar terjadi di UNY. Makam Riska tak hanya mengubur jasadnya, tapi juga mengubur mimpinya. Mimpi untuk menjadi sarjana. Mimpi yang ingin saya lihat,” cuit Ganta.

Kejadian seperti ini banyak ditemukan. UKT mahasiswa UNY melampaui kapasitas keuangan pembayar. Ganta menyebutkan hasil temuan @unybergerak yang melakukan survei pada seribu mahasiswa UNY,, sekitar 97% keberatan dengan nominal UKTnya.

Bagi Ganta, Riska adalah korban dari kekejaman sistem institusi dan sistem pendidikan.

“Riska adalah korban dari kejamnya institusi dan sistem pendidikan di negeri ini. Ia memberi kita semua alasan untuk terus mengawasi tata kelola institusi besar seperti UNY. Memberi kita kekuatan untuk selalu bicara tentang ancaman komersialisasi Pendidikan,” cuit Ganta.

“Saya kehilangan satu teman berharga. Negara ini kehilangan satu potensi besar yg kelak membangun bangsa dan kita kehilangan satu lagi orang baik di dunia”.*

Laporan Shifa Audia