Kamis, 24 September 2026
Menu

BI Beberkan Alasan Rupiah Melemah Dekati Rp18 Ribu

Redaksi
Bank Indonesia (BI) | Ist
Bank Indonesia (BI) | Ist
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan sejumlah penyebab kurs rupiah tertekan terhadap dolar AS. Siang ini, 24/9/2026, nilai tukar rupiah menyentuh Rp17.903 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) di tengah kekhawatiran terhadap inflasi global dan outlook fiskal.

Erwin mengatakan kondisi ini mendongkrak tingkat imbal hasil atau yield US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11 persen dan menjadi level tertinggi sejak 2007.

“Pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal,” ujar Erwin dalam keterangan resmi tertulis, Kamis, 24/9/2026.

Lalu, ketidakpastian konflik di Timur Tengah juga memperkeruh situasi pasar keuangan global. Eskalasi ini pun memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dunia sehingga harga minyak mentah Brent kembali melambung di atas US$100 per barel.

Dari dalam negeri, tekanan datang dari meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) oleh para importir menjelang akhir kuartal III 2026. Pasar juga dihadapkan pada tren keluarnya arus modal portofolio (capital outflow) dari aset-aset di negara berkembang (emerging markets).

Walaupun demikian, BI pun memastikan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap sejalan dengan fundamental ekonominya.

Bank sentral memperkuat strategi operasi moneter yang pro-market hingga mengoptimalkan instrumen stabilisasi, seperti transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian SBN di pasar sekunder.

“Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental dan memastikan mekanisme pasar berjalan baik,” ujarnya.

BI mencatat pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan tren mata uang di kawasan regional, yaitu mengalami penguatan secara quarter-to-date (qtd) sebesar 0,46 persen. Posisi cadangan devisa Indonesia juga meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. *