Kamis, 30 Juli 2026
Menu

Sudaryono Tepis Anggapan MBG Gerus Anggaran Perbaikan Sekolah

Redaksi
Kepala BGN Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Rabu, 29/7/2026. | Dok Badan Gizi Nasional RI
Kepala BGN Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Rabu, 29/7/2026. | Dok Badan Gizi Nasional RI
Bagikan:

FORUM KEADILAN –Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menepis anggapan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menggerus anggaran negara dan mengorbankan perbaikan sekolah.

Bantahan yang disampaikan di tengah viralnya sebuah foto yang memperlihatkan kondisi para siswa di SDN Tanggirejo, Grobogan, Jawa Tengah yang sedang makan MBG di depan ruang kelas yang atapnya rusak.

Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah terus meningkatkan jumlah sekolah yang direvitalisasi di tengah pelaksanaan program tersebut.

Ia mengatakan bahwa Pemerintah sudah merenovasi lebih dari 16 ribu sekolah sepanjang 2025. Sementara, tahun ini, jumlah sekolah yang ditargetkan diperbaiki mencapai lebih dari 70 ribu unit.

“Tahun ini yang mau direnovasi itu lebih dari 70 ribu, bahkan Pak Mendikdasmen pernah mengutarakan bisa jadi hampir 90 ribu sekolah. Yang itu langsung dari pemerintah pusat,” ujar Sudaryono ditemui di kantornya, Rabu, 29/7/2026.

Sudaryono menjelaskan narasi yang menyebut anggaran negara habis untuk membiayai MBG tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Menurutnya, berbagai program prioritas pemerintah tetap berjalan bersamaan.

“Kan ada semacam anggapan bahwa anggaran negara ini habis karena MBG. Pada kenyataannya ada MBG, yang dulu pupuk tidak cukup, sekarang pupuknya cukup. Bahkan harganya didiskon 20 persen,” tuturnya.

Pemerintah juga tetap meningkatkan anggaran revitalisasi irigasi. Ia mengatakan bahwa anggaran program itu mencapai Rp12 triliun pada tahun lalu, meningkat menjadi Rp14 triliun pada tahun ini, dan akan terus berlanjut pada tahun depan.

Sudaryono menilai kondisi sekolah yang rusak bukan disebabkan oleh hadirnya program MBG. Oleh karena itu, Sudaryono menekankan bahwa tidak tepat bila kondisi bangunan sekolah dibandingkan dengan dapur MBG yang baru dibangun.

“Dulu enggak ada MBG, sekolah itu rusak memang sebelum ada program MBG. Ini sekarang oleh Presiden (Prabowo Subianto) diperbaiki,” katanya.

Sudaryono meminta kepada masyarakat melaporkan jika menemukan sekolah yang masih rusak melalui kanal pengaduan yang disediakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah agar segera ditindaklanjuti.

“Kalau ada sekolah rusak yang ditemukan itu cukup lapor. Ada portalnya di Dikdasmen, pasti diperbaiki,” tuturnya.

Ia mengimbau masyarakat tidak membenturkan pembangunan dapur MBG dengan kondisi sekolah. Menurutnya, keduanya adalah program berbeda dengan skema pendanaan yang juga berbeda.

“Dapur MBG ini yang bangun adalah mitra, sementara perbaikan sekolah ini dua hal yang berbeda,” pungkasnya. *