Kamis, 14 Mei 2026
Menu

Trump Nyatakan akan Hentikan Sementara Operasi Pengawalan Kapal di Selat Hormuz

Redaksi
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. | Ist
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. | Ist
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz untuk membuka peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran.

Dilansir Bloomberg pada Rabu, 6/5/2026, Trump mengatakan bahwa akan ada kemajuan besar menuju kesepakatan final dengan perwakilan Iran.

Ia menyebut keputusan tersebut diambil atas permintaan Pakistan, yang turut juga memediasi perundingan antara Washington dan Teheran, bersama sejumlah negara lain.

“Proyek Freedom (pergerakan kapal melalui Selat Hormuz) akan dijeda untuk waktu singkat guna melihat apakah kesepakatan dapat difinalisasi dan ditandatangani,” ujar Trump dalam unggahan di media sosial, dikutip Rabu, 6/5.

Walaupun demikian, blokade AS terhadap kapal menuju dan dari pelabuhan Iran tetap akan diberlakukan penuh.

Belum diketahui secara detail kemajuan apa yang dimaksud oleh Trump dan rincian negosiasi yang tengah berlangsung. Pernyataan ini juga berbalik dari sikap sebelumnya yang menunjukkan frustasi atas lambatnya proses dialog dengan Iran.

Sebagai informasi, di pasar energi, harga Brent Crude turun mendekati USD$108 per barel usai anjlok 4 persen sehari sebelumnya. Sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD$ 100 per barel.

Pemerintah AS terlihat mencair cara meredakan konflik yang sudah mendorong lonjakan harga energi dan menekan ekonomi domestik, menjelang Pemilu sela November yang berpotensi mempengaruhi kontrol Partai Republik di Kongres.

Beberapa jam sebelum pernyataan Trump, Menteri Luar Negeri, Marco Rubio, mengatakan operasi ofensif terhadap Iran suadh dihentikan, dengan fokus beralih pada perlindungan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Tetapi, serangan terhadap kapal kargo di hari yang sama menunjukkan konflik masih berlangsung.

Walaupun AS saat ini mendorong deeskalasi konflik yang sudah menewaskan ribuan orang di Iran dan Lebanon hingga mengguncang pasar energi global, jalan menuju kesepakatan yang membuka kembali Selat Hormuz masih terbuka.

Sebelumnya, Trump menggambarkan Project Freedom sebagai upaya kemanusiaan untuk menyelamatkan pelaut yang terjebak dan memulihkan arus logistik di jalur strategis tersebut. Tetapi, operasi ini dinilai belum mampu menjawab kekhawatiran keamanan pelayaran.

Ketegangan meningkat pada Senin, 4/5, ketika militer AS menghadapi serangan drone, rudal, dan kapal kecil bersenjata Iran saat mengawal dua kapal berbendera AS. Uni Emirat Arab juga melaporkan berhasil mencegat rudal jelajah Iran.

Organisasi pemantau maritime Inggris melaporkan sebuah kapal kargo kembali terkena serangan proyektil tidak dikenal di Selat Hormuz.

AS mengatakan bahwa lebih dari 1.550 kapal komersial dengan sekitar 22.000 awak masih terjebak di Teluk Persia.

Iran terus menghambat lalu lintas internasional hingga distribusi minyak dan gas, memicu gejolak pasar energi. Sebagai balasan, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran sejak lebih dari tiga pekan lalu untuk menekan ekspor minyak Teheran dan meningkatkan posisi tawar dalam negosiasi nuklir.

Trump menilai bahwa tekanan ekonomi sudah memaksa Iran untuk melunak, tetapi konflik yang sudah berlangsung Sembilan pekan ini justru meningkatkan ketidakpastian di pasar global.

Sebelum pengumuman Trump, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menolak tuntutan AS untuk melanjutkan perundingan.

“Masalahnya, ketika AS menjalankan kebijakan tekanan maksimum terhadap negara kami, mereka juga berharap Iran mau kembali ke meja perundingan dan tunduk pada tuntutan sepihak ini adalah persamaan yang mustahil,” tuturnya.

Rubio pun mengakui proses negosiasi terhambat oleh dinamika internal Iran.

“Terkadang setelah sebuah tawaran diajukan, butuh lima hingga enam hari untuk mendapat respons karena harus melalui berbagai lapisan hingga ke pemimpin tertinggi. Sistem mereka memang berlapis, dan kini semakin kompleks akibat dampak perang,” pungkas Rubio. *