Rabu, 01 April 2026
Menu

Indonesia Desak PBB Aktifkan Rencana Darurat dan Evakuasi Pasukan UNIFIL di Lebanon

Redaksi
Majelis Umum PBB Setujui Resolusi Gencatan Senjata Tanpa Syarat di Gaza | Dok UN Photo/Amanda Voisard
Majelis Umum PBB Setujui Resolusi Gencatan Senjata Tanpa Syarat di Gaza | Dok UN Photo/Amanda Voisard
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Indonesia mendesak PBB untuk mengaktifkan rencana darurat dan evakuasi demi melindungi Pasukan Penjaga Perdamaian di Lebanon (UNIFIL), setelah tiga prajurit TNI yang bertugas dalam misi tersebut tewas.

Wakil Tetap RI untuk PBB di New York, Umar Hadi, menyampaikan pernyataan itu dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB pada Selasa, 31/3/2026.

Umar menegaskan Dewan Keamanan PBB dan Sekretaris Jenderal harus segera menerapkan langkah-langkah darurat untuk memastikan perlindungan penuh bagi personel dan aset UNIFIL.

“Ini termasuk peninjauan protokol pengaturan keamanan, dan pengaktifan rencana darurat dan evakuasi yang sesuai dengan perkembangan di lapangan,” tuturnya.

Umar mengatakan PBB dan komunitas internasional harus memanfaatkan semua cara politik hingga diplomatik untuk meredakan situasi.

Ia mengatakan PBB juga harus menegaskan kembali prinsip-prinsip dasar yang menjamin keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB.

Menurut Umar, penting untuk Dewan Keamanan PBB dan komunitas internasional mengambil tindakan segera dan tegas untuk melindungi mereka yang melindungi perdamaian.

Ia menjelaskan Indonesia terus berkomitmen dan berkontribusi terhadap pasukan penjaga perdamaian. Pemerintah Indonesia sekarang menuntut Dewan Keamanan untuk bertindak dan memberikan hasil signifikan, salah satunya mengecam serangan ke UNIFIL.

“Hari ini, Dewan Keamanan harus bersuara dengan jelas, kuat, dan bersatu untuk mengutuk serangan terhadap personel penjaga perdamaian,” katanya.

Umar berpandangan bahwa Dewan Keamanan PBB harus menegaskan kembali kewajiban semua pihak untuk memastikan dan menjamin keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian. DK PBB pun harus mengambil tindakan tegas untuk mencegah permusuhan dan serangan di masa depan terhadap pasukan penjaga perdamaian.

Rapat darurat DK PBB ini berlangsung usai tiga anggota TNI yang bertugas di UNIFIL tewas akibat serangan Israel.

Diberitakan sebelumnya, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melaporkan ada dua lagi prajurit TNI yang menjadi Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon/Unifil) gugur.

PBB mengatakan bahwa dua prajurit TNI gugur dalam sebuah ledakan di dekat Bani Hayyan di Lebanon Selatan.

“Ini adalah dua insiden terpisah dan kami sedang menyelidikinya sebagai dua insiden terpisah,” ujar juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel dilansir kantor berita Reuters, Selasa, 30/3/2026.

Dua prajurit TNI tersebut tewas pada Senin, 30/3/2026 usai sebuah ledakan yang tidak diketahui asalnya menghancurkan kendaraan mereka di dekat Bani Hayyan di Lebanon Selatan.

Militer Israel mengatakan bahwa mereka telah mengetahui laporan mengenai dua insiden itu. Militer Israel juga mengklaim tengah meninjau secara menyeluruh untuk menentukan apakah insiden disebabkan oleh Hizbullah atau aktivitas militer.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian adalah pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

“Kami mengutuk keras insiden-insiden yang tidak dapat diterima ini – pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran,” ujar kepala pasukan penjaga perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, kepada wartawan dalam sebuah pengarahan pada hari Senin.

Diberitakan sebelumnya, Tentara Nasional Indonesia (TNI) berduka atas gugurnya satu prajurit yang tergabung dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon Selatan, Minggu, 29/3/2026.

Prajurit yang gugur tersebut adalah Praka Farizal Rhomadhon. Selain itu, tiga prajurit lainnya turut menjadi korban dalam insiden yang terjadi di tengah meningkatnya eskalasi keamanan di wilayah penugasan.

Berdasarkan keterangan resmi Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono, Praka Rico Pramudia mengalami luka berat, sementara Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka ringan.

“Dua prajurit yang mengalami luka ringan telah mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan Level I UNIFIL. Sementara itu, satu prajurit dengan luka berat telah dievakuasi menggunakan helikopter ke Rumah Sakit St. George untuk penanganan lanjutan,” ujar Donny saat dikonfirmasi Forum Keadilan, Senin, 30/3.

Ia menambahkan, jenazah prajurit yang gugur saat ini disemayamkan di markas sektor timur UNIFIL (East Sector Headquarters) sambil menunggu proses administrasi pemulangan ke Indonesia yang difasilitasi oleh KBRI di Beirut.

Menurut Donny, insiden terjadi di tengah situasi saling serang artileri di wilayah tersebut. Hingga kini, belum dapat dipastikan pihak yang secara langsung menyebabkan kejadian tersebut.

“Proses investigasi masih dilakukan oleh UNIFIL,” katanya.

Seiring meningkatnya eskalasi di Lebanon Selatan, TNI telah mengambil langkah peningkatan kewaspadaan sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP) yang berlaku dalam misi tersebut.

Donny menegaskan, TNI tetap berkomitmen menjalankan tugas sebagai bagian dari misi perdamaian dunia di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa secara profesional dan penuh tanggung jawab, dengan tetap mengutamakan keselamatan prajurit.

“TNI juga terus memonitor perkembangan situasi di lapangan serta menyiapkan langkah-langkah kontinjensi sesuai dinamika di daerah penugasan Lebanon,” ujarnya.*