Senin, 30 Maret 2026
Menu

Perang Belum Ada Titik Temu, Indonesia Bidik Negara Lain untuk Penuhi Pasokan BBM Nasional

Redaksi
Wakil Ketua MPR RI sekaligus anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 30/3/2026 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Wakil Ketua MPR RI sekaligus anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 30/3/2026 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Wakil Ketua MPR RI sekaligus anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno menilai, konflik geopolitik di Timur Tengah masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir, dan proses negosiasi belum menemukan titik temu.

“Perang ini masih belum terlihat ujungnya karena masing-masing pihak masih bertahan dalam posisinya. Di satu pihak ada yang mengatakan akan ada negosiasi, tetapi Iran masih menolak negosiasi,” katanya, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 30/3/2026.

Dampaknya, tidak hanya dirasakan negara-negara di kawasan tersebut, tetapi juga seluruh negara di dunia yang bergantung pada pasokan energi fosil dari Timur Tengah, termasuk Indonesia. Eddy menjelaskan, kebutuhan energi fosil Indonesia, terutama minyak mentah dan gas, masih tergolong tinggi. Namun, Indonesia dinilai relatif lebih terlindungi dari gejolak besar di kawasan tersebut karena hanya sekitar 20 persen impor minyak mentah yang berasal dari Timur Tengah.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa jika pasokan dari kawasan tersebut terganggu, Indonesia tetap harus mencari sumber alternatif untuk menutup kekurangan tersebut. Dalam situasi krisis energi global, negara-negara lain juga akan berebut sumber pasokan minyak dan gas dari negara-negara pemasok yang sama dengan Indonesia.

“Dalam kondisi seperti sekarang, jaminan ketersediaan migas menjadi hal yang sangat penting, bahkan lebih penting dibandingkan ketersediaan dana yang kita miliki,” ujarnya.

Ia menyebutkan, pemerintah saat ini tengah membidik peningkatan pasokan energi dari sejumlah negara alternatif seperti Nigeria, Aljazair, Brasil, Australia, hingga Amerika Serikat. Upaya tersebut sejalan dengan kerja sama perdagangan resiprokal yang telah disepakati Indonesia dan Amerika Serikat, yang juga membuka peluang peningkatan impor energi dari Negeri Paman Sam.

Eddy mengaku optimistis langkah diversifikasi sumber impor tersebut akan mampu menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

“Saya punya optimisme bahwa kita tetap bisa memenuhi kebutuhan migas dan BBM di dalam negeri,” pungkasnya.*

Laporan oleh: Novia Suhari