Jelang Muktamar NU, Islah Bahrawi: Jangan Menghamba pada Kekuasaan, NU Harus Kembali kepada Perjuangan Rakyat
FORUM KEADILAN – Intelektual Nahdlatul Ulama (NU) Islah Bahrawi berharap NU kembali menempatkan perjuangan dan kepentingan rakyat sebagai orientasi utama organisasi.
Hal itu disampaikan Islah menjelang pelaksanaan Muktamar NU. Ia mengingatkan agar NU tidak terjebak dalam sikap pragmatis dan terlalu dekat dengan kekuasaan.
“Ya, saya kira NU harus kembali kepada perjuangan rakyat. Tidak boleh NU itu bersifat pragmatis, hanya menghamba kepada kekuasaan, karena itu bukan DNA-nya NU,” kata Islah saat ditemui di depan Gedung DPR RI, Kamis, 27/8/2026.
Menurut Islah, NU sejak awal dibangun untuk berjuang bagi kepentingan negara dan masyarakat, bukan untuk mengabdi kepada penguasa.
“DNA-nya NU adalah menghamba dan berjuang untuk negara, bukan kepada penguasa,” ujarnya.
Karena itu, Islah berharap siapa pun yang nantinya terpilih memimpin NU melalui Muktamar dapat lebih mengedepankan suara masyarakat.
Ia menilai hubungan NU dengan pemerintah tetap diperlukan, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka yang positif dan tidak menghilangkan sikap kritis organisasi.
“Boleh juga bergandengan tangan dengan kekuasaan, tapi tetap dalam konteks positif. Dan tetap bersuara kritis kepada kekuasaan kalau ternyata ada kebijakan-kebijakan kekuasaan atau penguasa yang ternyata merugikan rakyat,” kata Islah.
Islah menegaskan, sikap kritis terhadap pemerintah bukan berarti NU harus berada dalam posisi berseberangan dengan pemerintah. Menurut dia, kritik diperlukan ketika terdapat kebijakan yang dinilai merugikan masyarakat.
Ia berharap kepemimpinan NU ke depan mampu menjaga keseimbangan antara kerja sama dengan pemerintah dan keberpihakan terhadap kepentingan rakyat.
“Saya berharap itu, siapapun yang terpilih,” ujarnya.
Ketika ditanya mengenai sosok yang dijagokan dalam Muktamar NU mendatang, Islah memilih tidak menyebut nama tertentu.
“Semua di NU itu jagoan saya,” kata Islah.*
Laporan oleh: Muhammad Reza
